Kamis, 03 Maret 2011

Proyek Jalan Otsus Mengecewakan

Sun, Jan 23rd 2011, 08:24

TAPAKTUAN - Sejumlah proyek pembangunan jalan di Kabupaten Aceh Selatan yang dananya bersumber dari Otsus 2010 diragukan kualitasnya dan mengecawakan. Pasalnya pengaspalan hotmix yang meraup dana miliaran rupiah itu terkesan dikerjakan asal jadi.

Anggota DPRK Aceh Selatan, Azmir SH, kepada Serambi Jumat (21/1) mengatakan, dari hasil pengamatannya dalam beberapa hari terakhir ini banyak menemukan proyek pengaspalan jalan hotmix di wilayah barat kabupaten itu yang mengecewakan, karena kuranganya pengawasan dari instansi terkait.

Selain pelaksanaannya menyalahi aturan, yakni tidak mengikuti prosedur ketebalan dan kepadatan hotmix sebagaimana yang telah ditetapkan. Dalam pekerjaan jalan itu juga tidak menggunakan alat berat alias dikerjakan secara manual, sehingga mengakibatkan jalan itu tidak rata. Seperti pengaspalan jalan di Dusun Jaya Makmur, Desa Labuhan Tarok, Kecamatan Meukek. “Cukup mengecewakan. Saya sudah lihat langsung kondisi jalan Dusun Jaya Makmur itu sangat jelek mutunya,”katanya.

Lebih parahnya lagi proyek pengaspalan jalan hotmix di Desa Paya Peulumat, Kecamatan Labuhan Haji Timur. Pengaspalan jalan itu menggunakan alat berat, namun proyek itu diyakini tidak akan bertahan lama. Sebab selain ketebalannya tidak sesuai, dalam pelakasanaan pengerasan jalan proyek senilai Rp 1,3 milar lebih bersumber dari dana Otsus 2010 yang dikerjakan oleh PT Duta Sarana itu juga hanya dilapisi tanah timbunan, sehingga aspal yang baru berumur sekitar empat pekan itu sudah banyak yang terkelupas serta ditumbuhi rumput. Demikian juga nasib proyek jalan jalan hotmix di Dusun Surya Indah, Desa Blangporoh, Kecamatan Labuhan Haji Barat. Ruas jalan menuju Pondok Pesantren Darussaslam itu juga diragukan kualitasnya.(az)

Sumber : Serambinews.com

Pasang Purnama Masih Genangi Rumah Warga

Sat, Jan 22nd 2011, 08:56

TAPAKTUAN – Gelombang pasang purnama kembali naik dan merendam rumah penduduk di Desa Padang Bakau, Kecamatan Labuhan Haji, Aceh Selatan. Bahkan pasang yang terajdi sejak Kamis (20/1) malam lebih parah dari sehari sebelumnya. Keuchik Padang Bakau, Adam Malik, kepada Serambi Jumat (21/1) melaporkan, setelah sempat merendam beberapa jam rumah warga, sejak Kamis (21/1) malam air laut kembali merendam puluhan rumah warga di pesisir pantai laut Samudera Hindia.

Dikatakan, pasang purnama yang terjadi itu lebih besar dibandingkan dengan hari sebelumnya. Meski genangan air laut di dalam rumah warga mencapai 15 Cm, namun belum ada warga yang mengungsi, karena genangan itu tidak berlangsung lama. “Sebelumnya hanya 5 Cm, tapi pada Kamis malam kemarin genangan air laut dalam rumah warga mencapai 15 Cm,”katanya. Bukan hanya merendam rumah warga, banjir pasang purnama yang sudah menahun itu, juga merendam sebagian teras gedung sekolah dasar (SD) Padang Bakau sejumlah pasilitas umum lainnya yang berada di pinggir jalan nasional. Menurutnya, pasang naik yang sudah berlangsung beberapa hari lalu itu diperkirakan akan terus terjadi dalam beberapa hari kedepan. Seperti lazimnya luapan air laut pasang purnama itu baru reda 10 hari ke depan, yakni pada 27 hari bulan.

Selain telah merusak perlengkapan rumah tangga dan lahan persawahan warga, pasang purnama yang sudah menahun itu juga berdampak buruk terhadap lingkungan, karena sumur-sumur tradisonal yang dimiliki warga sudah tercemar akibat dimasuki air alut. Karena itu masyarakat berharap kepada pemerintah untuk segera membangun tanggul disepanjang pantai itu.Sebab kalau dibiarkan berlarut-larut bisa menimbulkan berbagai macam penyakit.”Kami sangat berharap kepada pemerintah untuk segera membangun tanggul disepanjang pantai tersebut,”katanya.(az)

Sumber : Serambinews.com

Gelombang Pasang Rendam Puluhan Rumah

Thu, Jan 20th 2011, 22:05

TAPAKTUAN - Gelombang pasang purnama merendam puluhan rumah warga di pesisir pantai Desa Padang Bakau, Kecamatan Labuhan Haji, Aceh Selatan, Rabu (19/1/2011) malam.

Geuchik Padang Bakau, Adam Malik, kepada Serambinews.com, mengatakan, air laut yang masuk ke permukiman warga setinggi 5 cm. "Memang warga tidak mengungsi, namun akibat gelombang itu sejumlah peralatan rumah tangga warga mengalami kerusakan," tuturnya.

Air mulai menggenangi rumah-rumah warga sejak pukul 18.00 WIB dan mencapai puncak ketinggian sekitar pukul 20.00 WIB. Banjir pasang akibat gelombang naik tersebut kembali surut pada pukul 21.00 WIB.(azhari)

Sumber : Serambinews.com

Abrasi Pantai Bakotim Kian Parah

Wed, Jan 19th 2011, 20:33

TAPAKTUAN - Abrasi pantai di pesisir Desa Ujung Pulo Rayek, Kecamatan Bakongan Timur (Bakotim), Aceh Selatan, semakin parah. Warga di sepanjang pantai itu semakin sulit menghindari kepungan banjir pasang laut.

Camat Bakotim, Sarmiadi kepada Serambinews.com, Rabu (19/1/2011), mengatakan, masyarakat di pesisir pantai Desa Ujung Pulo Rayeuk, semakin diresahkan dengan gelombang laut yang terus menggerus permukiman mereka.

Bukan hanya merusak perkebunan kelapa dan perkuburan umum, namun akibat terjadinya penurunan
permukaan daratan itu juga membuat pemukiman itu kerap diterjang banjir. Dalam sepekan ini sebanyak 10 rumah direndam air laut dengan ketinggian rata-rata 15 cm.(azhari)

Sumber : Serambinews.com

Selasa, 01 Februari 2011

Puluhan Rumah Terancam Hanyut

Abrasi Kreung Baro Meluas
Thu, Jan 13th 2011, 09:32

TAPAKTUAN – Abrasi Sungai Krueng Baro, Kecamatan Labuhan Haji Barat, Kabupaten Aceh Selatan, semakin melebar menyusul hujan deras yang mengguyur bagiah hulu sungai itu Senin (10/1) malam. Jika tidak segera ditanggulangi, dikwatirkan puluhan rumah di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) itu akan hanyut, karena mulut sungai itu sudah mengarah ke permukiman penduduk.

Azmir, anggota DPRK Aceh Selatan, daerah pemilihan Labuhan Haji, kepada Serambi, Rabu (12/1) mengatakan, warga yang berdomisili di sepanjang DAS Krueng baro, terutama masyarakat Desa Suak Lokan dan Pulo Ie Kecamatan Labuhan Haji Barat, kini semakin diresahkan dengan abrasi sungai yang terus meluas.

Bahkan, kini jarak bibir sungai dengan rumah warga hanya sekitar 100 meter lagi. Selain merendam sejumlah tambak ikan, luapan sungai Krueng Baro itu juga mengakibatkan sejumlah tanaman masyarakat ikut terendam. Bahkan hingga Rabu kemarin kebun-kebun masyarakat itu masih terendam

Karena itu ia meminta kepada Pemkab Aceh Selatan dan Pemerintah Provinsi untuk segera menormalisasikan, sekaligus membangun tanggul pengaman di sepanjang sungai itu.

Camat Labuhan Haji Barat, Suhaidi, yang dihubungi seraca terpisah membenarkan peristiwa itu. Bahkan muspika bersama Wakil Bupati (Wabup) Daska Aziz juga sudah turun ke lokasi melihat langsung kondisi sungai.

Krueng Inong
Sementara itu pengikisan sungai Krueng Inong di Desa Pucuk Lembang, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan, kini semakin parah. Puluhan rumah dan lahan perkebunan masyarakat desa setempat mulai terancam.

Wakil Ketua DPRK Aceh Selatan, Khaidir Amin SE, kepada Serambi, Selasa (11/1) mengatakan, masyarakat Desa Pucuk Lembang kini semakin dicemaskan dengan erosi Krueng Inong yang kini semakin parah. Selain mengancam puluhan rumah, gedung sekolah, sarana ibadah dan fasiltas umum lainnya, erosi sungai yang terus menggerus daratan itu juga mengancam tanaman perkebunan masyarakat, seperti tanaman kakao,pinang, sawit dan tanaman palawija lainnya.

Hal itu dibenarkan Camat Kluet Timur, Halimuddin. Bahkan menurut Halimuddin, puluhan rumah lainnya milik warga yang sebelumnya dipindahkan karena berdekatan dengan bibir sungai itu kini mulai terancam sehubungan erosi sungai itu semakin meluas. Kini jarak bibir sungai dengan rumah warga hanya tersisa sekitar lima meter.

Terkait masalah itu, Kabid Pengairan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Aceh Selatan, Muhammad Yunus ST, mengaku sudah menerima laporan tentang erosi Krueng Inong di Desa Pucuk Lembang, Kluet Timur. (az)

Sumber : Serambinews.com

Jumat, 28 Januari 2011

400 Hektar Sawah Produktif Dibiarkan Telantar

Tue, Jan 11th 2011, 09:40

TAPAKTUAN-Sebanyak 400 hektare lebih sawah di Kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan, ditelantarkan oleh pemiliknya karena tidak bisa digarap. Kondisi ini terjadi akibat tidak tersedianya sarana irigasi.

Kades Ladang Rimba, Khairuddin didampingi tokoh pemuda setempat Kasmi, kepada Serambi, Senin (10/1) menuturkan, lahan persawahan itu sudah ditelantarkan sekitar tujuh tahun setelah air Sungai Ladang Rimba tidak lagi mengairi sawah-sawah dimaksud, karena air sungai itu sudah dimanfaatkan warga untuk kepentingan air bersih.

Bahkan tidak sedikit pula diantara sawah itu yang berubah fungsi menjadi lahan perkebunan sawit, coklat, cabai dan tamanan palawija lainnya. Padahal, sawah tersebut sangat berpotensi meningkatkan pendapatan rakyat. Lahan persawahan masyarakat yang terlantar itu, terdapat di Desa Naca, Ladang Rimba dan Desa Jambo Papeun.

Menurutnya, lahan persawahan milik warga itu tidak bisa digarap lagi karena kekeringan akibat belum tersedianya irigasi. Meskipun ada warga yang bernanam padi dengan memanfaatkan air hujan, namun hasil yang diperoleh tidak maksimal. Bahkan tidak sedikit yang mengalami gagal panen. Seperti tanam padi bantuan yang dilakukan pada musim tanam tahun lalu tidak sedikit para petani yang mengeluh karena gagal panen.

Karena itu para petani sangat berharap kepada Pemkab setempat untuk segera membangun irigasi di kawasan itu, sehingga masyarakat bisa kembali menggarap lahan persawahannya.

“Sudah lebih tujuh tahun lahan persawahan itu tidak bisa digarap, karena tidak tersedianya irigasi yang dapat mengairi sawah tersebut. Kami berharap kepada Pemkab segera membangun irigasi,” katanya.(az)

Sumber : Serambinews.com

Rabu, 19 Januari 2011

Abrasi Pantai Ancam Warga Desa Lhok Ketapang

Fri, Jan 7th 2011, 14:28

TAPAKTUAN-Puluhan kepala keluarga (KK) yang berdiam di sepanjang pesisir pantai Desa Lhok Ketapang, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, dicemaskan dengan gelombang pasang yang akhir-akhir ini terus menggerus pemukiman penduduk. Selain merusak sejumlah bangunan rumah penduduk dan tanggul perkarangan rumah ibadah, fenomena alam itu juga mengancam areal perkuburan umum.

Ridwan Ar Rahman, anggota DPRK Aceh Selatan asal daerah pemilihan Tapaktuan, kepada Serambi, Kamis (6/1) mengatakan, masyarakat Desa Lhok Ketapang yang berdomisili di pinggir pantai laut Saudera Hindia kini semakin dicemaskan dengan abrasi pantai yang kini terus menggerus pemukiman penduduk.

Didampingi Kades Lhok Ketapang, Syukri Hasyim, Ridwan Ar Rahman mengatakan, selain merobohkan puluhan bangunan dapur warga, abrasi pantai menyusul gelombang besar yang terjadi dua pekan terakhir ini juga telah mengakibatkan tanggul pengaman perkarangan masjid menjadi retak. Bahkan tanggul beton itu dipastikan roboh jika tidak segera ditanggulangi.

Bukan itu saja, puluhan perkuburan umum di samping masijid Almakumr di Lingkungan Tiga itu juga terancam hilang digerus ombak. Kini bibir pantai dengan perkuburan umum itu hanya berjarak dua meter. “Hempasan air laut itu sering menggenangi halaman dan teras rumah saya,”kata Siti Hajirah (38), warga lingkungan Tiga, Desa Lhok Ketapang.

Karena itu masyarakat setempat sangat berharap kepada pemerintah untuk segera membangun tanggul pengaman tebing di sepanjang pantai itu. “Kami mengharapkan kepada Pemkab Aceh Selatan dan Pemprov Aceh untuk segera membangun tanggul pengaman tebing di pantai itu,” katanya.(az)

Sumber : Serambinews.com