Fri, Feb 4th 2011, 08:04
APAKTUAN - Masyarakat Kecamatan Labuhan Haji Barat, Kabupaten Aceh Selatan, dalam beberapa hari terakhir ini diresahkan dengan keberadaaan cagee (beruang-red) beruang yang kerap kerkeliaran di sekitar pemukiman warga.
Apalagi dalam sepekan terakhir ini sudah 25 ekor ternak ayam milik warga di Desa Kuta Trieng dan Desa Pante Geulima dilaporkan hilang dari kandangnya dan diduga dimangsa oleh satwa dilindungi tersebut.
Keuchik (Kades-red) Kuta Trieng,Laksamana dan Kades Pante Geulima, Tarmizi Ibrahim, Kamis (3/2) mengatakan, dalam sepekan terakhir ini ketenangan masyarakat di desanya sangat terusik dengan kehadiran beruang hitam yang kerap berkeliaran di pemukiman penduduk.
Binatang buas yang diperkirakan berjumlah dua ekor itu masuk ke perkampungan penduduk mencari mangsa disaat menjelang magrib dan insya. Bahkan dalam sepekan ini binatang yang biasa hanya memakan buah-buahan itu kini sudah memangsa 25 ekor ternak ayam milik warga. “Biasa binatang itu memangsa ternak ayam warga pada tengah malam, yakni sekitar pukul 02.00 WIB,” kata Kades Kuta Trieng, Laksamana
Menurutnya, keganasan satwa dilindungi yang pertama kali terjadi sepanjang sejarah itu tidak hanya terjadi di Desa Kuta Trieng dan Desa Pante Geulima, namun binantag itu juga sudah mulai merambah ke Desa Ie Khulung dan desa yang berdekatan dengan gunung. “Sejauh ini belum ada warga yang berani untuk mengusir binatang itu, karena takut akan menjadi sasaran keganasannya,” katanya.
Karena itu masyarakat sangat berharap kepada Pemkab setempat atau instansi terkait untuk segera turun ke lokasi untuk menanggulangi keganasan satwa dilindungi itu. Sebab jika dibiarkan berlarut-larut dikhawatirkan binatang itu akan malah memangsa manusia. “Kita sudah laporkan keberadaan binatang itu ke Polsek Labuhan Haji Barat untuk dilanjutkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Tapaktuan,” katanya.
Kapolsek Labuhan Haji Barat, Iptu Darman, yang dihubungi terpisah membenarkan telah menerima laporan dari kepala desa tentang keganasan satwa dilindungi di kawasan itu. Bahkan pihaknya mengakui sudah melaporkan peristiwa itu ke BKSDA Tapaktuan, dan pihak BKSDA berjanji akan segera menanggulangi gangguan binatang tersebut.
Sementara Kepala BKSDA Tapaktuan, Safwan mengakui sudah turun ke lokasi melihat kerusakan yang dialami akibat keganasan beruang tersebut. “Kita sudah laporkan hal ini ke BKSDA Provinsi. Bila dalam beberapa hari ini binatang itu tetap juga mengganas dan memakan ternak ayam warga kita akan datangkan perangkap ke lokasi,” katanya.(az)
Sumber : Serambinews.com
Kamis, 17 Maret 2011
Senin, 14 Maret 2011
Masyarakat Kembali Blokir Lintas Manggamat-Kotafajar
Tuntutan tak Direspon
Tue, Feb 1st 2011, 09:11
TAPAKTUAN - Masyarakat Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan, Senin (31/1) kembali memblokir jalan lintasan Kota Fajar-Manggamat yang selama ini dilintasi mobil truk pengangkut material bijih besi PT Pinang Sejati Utama (PSU). Aksi itu dilakukan sebagai wujud kekecewaan warga terhadap sikap Pemkab setempat yang hingga batas waktu 30 Januari 2011 tidak merespon tuntutan mereka tentang penutupan sementara jalan tersebut.
Kades Koto Manggamat, Hebbahir yang dihubungi Serambi Senin (31/1) membenarkan ada pemblokiran jalan oleh warga. Pemblokiran jalan lintasan Manggamat-Kota Fajar dengan drum dan kayu itu dilakukan warga sebagai akumulasi kekecewaan warga terhadap sikap Pemkab setempat yang tidak merespon tutuntan warga yang meminta supaya jalan itu ditutup sementara untuk menunggu kejelasan dari PT PSU tentang kerusakan jalan yang sudah meresahkan warga di sepanjang lintasan itu.
Padahal dalam demontrasi ratusan warga di kantor bupati pada Senin pekan lalu, Sekdakanb setempat, Harmaini sudah sepakat jalan tersebut ditutup tidak bisa dilintasi armada pengangkut material pertambangan batu bijih besi PT PSU. Tapi anehnya janji itu hanya di atas kertas. Buktinya hingga kini pihak PT PSU masih melintasi jalan itu, meski sebagian lainnya terutama mobil berbadan besar tronton sudah mengalihkan ke jalan Pasie Raja, yakni jalan yang dibangun oleh PT PSU.
Sejumlah petugas keamanan turun ke lokasi guna memediasi perserteruan antara masyarakat dengan awak angkutan PT PSU tersebut. Namun hingga pukul 15.30 WIB upaya untuk membuka kembali jalan dari pemblokiran yang dilakukan warga di Desa Koto itu belum berhasil.
Sementara Dirut PT PSU, Hj Latifah Hanum, yang dihubungi secara terpisah mengakui belum mendapat laporan tentang adanya pemblokiran jalan lintasan Manggamat-Kota Fajar oleh warga. Ia mengakui baru mengetahui informasi itu dari wartawan Serambi.
Hanum menyatakan, tidak keberatan kalau angkutannya tidak diperbolehkan lagi melintasi jalan kabupaten itu. Bahkan jauh hari sebelumnya pihaknya sudah membangun jalan sendiri, yakni jalan alternatif dari Manggamat tembus Desa Paya Ateuk, Pasie Raja. “Sejak tiga hari lalu semua angkutan batu bijih besi sudah dilaihkan ke jalan Paya Ateuk, Pasie Raja,”katanya.(az)
Sumber : Serambinews.com
Tue, Feb 1st 2011, 09:11
TAPAKTUAN - Masyarakat Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan, Senin (31/1) kembali memblokir jalan lintasan Kota Fajar-Manggamat yang selama ini dilintasi mobil truk pengangkut material bijih besi PT Pinang Sejati Utama (PSU). Aksi itu dilakukan sebagai wujud kekecewaan warga terhadap sikap Pemkab setempat yang hingga batas waktu 30 Januari 2011 tidak merespon tuntutan mereka tentang penutupan sementara jalan tersebut.
Kades Koto Manggamat, Hebbahir yang dihubungi Serambi Senin (31/1) membenarkan ada pemblokiran jalan oleh warga. Pemblokiran jalan lintasan Manggamat-Kota Fajar dengan drum dan kayu itu dilakukan warga sebagai akumulasi kekecewaan warga terhadap sikap Pemkab setempat yang tidak merespon tutuntan warga yang meminta supaya jalan itu ditutup sementara untuk menunggu kejelasan dari PT PSU tentang kerusakan jalan yang sudah meresahkan warga di sepanjang lintasan itu.
Padahal dalam demontrasi ratusan warga di kantor bupati pada Senin pekan lalu, Sekdakanb setempat, Harmaini sudah sepakat jalan tersebut ditutup tidak bisa dilintasi armada pengangkut material pertambangan batu bijih besi PT PSU. Tapi anehnya janji itu hanya di atas kertas. Buktinya hingga kini pihak PT PSU masih melintasi jalan itu, meski sebagian lainnya terutama mobil berbadan besar tronton sudah mengalihkan ke jalan Pasie Raja, yakni jalan yang dibangun oleh PT PSU.
Sejumlah petugas keamanan turun ke lokasi guna memediasi perserteruan antara masyarakat dengan awak angkutan PT PSU tersebut. Namun hingga pukul 15.30 WIB upaya untuk membuka kembali jalan dari pemblokiran yang dilakukan warga di Desa Koto itu belum berhasil.
Sementara Dirut PT PSU, Hj Latifah Hanum, yang dihubungi secara terpisah mengakui belum mendapat laporan tentang adanya pemblokiran jalan lintasan Manggamat-Kota Fajar oleh warga. Ia mengakui baru mengetahui informasi itu dari wartawan Serambi.
Hanum menyatakan, tidak keberatan kalau angkutannya tidak diperbolehkan lagi melintasi jalan kabupaten itu. Bahkan jauh hari sebelumnya pihaknya sudah membangun jalan sendiri, yakni jalan alternatif dari Manggamat tembus Desa Paya Ateuk, Pasie Raja. “Sejak tiga hari lalu semua angkutan batu bijih besi sudah dilaihkan ke jalan Paya Ateuk, Pasie Raja,”katanya.(az)
Sumber : Serambinews.com
Senin, 07 Maret 2011
Lintasan Tapaktuan-Medan Terancam Putus
Sat, Jan 29th 2011, 10:10
TAPAKTUAN - Transportasi jalur darat Tapaktuan, Aceh Selatan-Medan, Sumatera Utara (Sumut) terancam putus, menyusul longsornya badan jalan nasional di kawasan Gunung Pintu Air Desa Lhok Reukam, Kecamatan Tapaktuan, Jumat (29/1) setelah diguyur hujan lebat yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini. Kepala Desa Lhok Reukam, Suhardi kepada Serambi Jumat (28/1) mengatakan, kondisi jalan di lintasan pegunungan Pintu Angin kini semakin parah. Bahkan sebagian ruas jalan nasional itu kini semakin sempit akibat longsor setelah tangggul beton pengaman tebing di tinkungan jalan nasional Desa Lhok Reukam itu ambruk ke dasar jurang Rabu (26/1) sekitar pukul 09.00 WIB.
Selain mencemaskan warga, musibah itu juga meresahkan para pengguna jalan, karena kerusakan badan jalan negara itu semakin parah sehubungan dengan semakin meluasnya kerusakan tanggul beton pengaman tebing dilintasan itu. Ia menduga konstruksi proyek pembangunan tanggul beton di tikungan itu dikerjakan asal jadi tanpa dilandasi mutu dan kekuatan maksimal, sehingga rapuh dan tidak mampu bertahan bahkan bila dibiarkan bisa mengakibatkan badan jalan terancam amblas. Kerusakan badan jalan negara dan tanggul itu harus segera ditanggulangi, jika tidak bisa mengakibatkan transportasi darat Tapaktuan-Medan terputus total. Sebab sebagian badan jalan nasional itu juga terlihat sudah amblas. Bahkan lebar badan jalan itu semakin sempit, dulu lebar jalan itu mencapai 8 meter, kini hanya tersisa sekitar 3,5 meter.
Setiap kenderaan harus ektra hati-hati ketika melintasi jalan itu, terutama armada berbadan besar seperti mobil interkuler tronton bermuatan berat, karena jalan itu hanya bisa dilintasi satu truk. “Jika hujan terus mengguyur kawasan itu, kemungkinan lintasan jalan nasional itu akan terputus total,”katanya. Selain mendesak tanggul pengaman tebing itu diperbaiki. Masayarakat setempat juga meminta kepada Pemkab setempat untuk membuka jalan alternatif, yakni jalan tembus antara Pegunungan Pintu Angin dengan Gunung Panorama Hatta. Jalan tembus sepanjang 1200 meter itu sudah dibangun pada tahun 1980 an. Tapi jalan itu hingga kini belum bisa dimanfaatkan karena belum pengerasan.(az)
Sumber : Serambinews.com
TAPAKTUAN - Transportasi jalur darat Tapaktuan, Aceh Selatan-Medan, Sumatera Utara (Sumut) terancam putus, menyusul longsornya badan jalan nasional di kawasan Gunung Pintu Air Desa Lhok Reukam, Kecamatan Tapaktuan, Jumat (29/1) setelah diguyur hujan lebat yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini. Kepala Desa Lhok Reukam, Suhardi kepada Serambi Jumat (28/1) mengatakan, kondisi jalan di lintasan pegunungan Pintu Angin kini semakin parah. Bahkan sebagian ruas jalan nasional itu kini semakin sempit akibat longsor setelah tangggul beton pengaman tebing di tinkungan jalan nasional Desa Lhok Reukam itu ambruk ke dasar jurang Rabu (26/1) sekitar pukul 09.00 WIB.
Selain mencemaskan warga, musibah itu juga meresahkan para pengguna jalan, karena kerusakan badan jalan negara itu semakin parah sehubungan dengan semakin meluasnya kerusakan tanggul beton pengaman tebing dilintasan itu. Ia menduga konstruksi proyek pembangunan tanggul beton di tikungan itu dikerjakan asal jadi tanpa dilandasi mutu dan kekuatan maksimal, sehingga rapuh dan tidak mampu bertahan bahkan bila dibiarkan bisa mengakibatkan badan jalan terancam amblas. Kerusakan badan jalan negara dan tanggul itu harus segera ditanggulangi, jika tidak bisa mengakibatkan transportasi darat Tapaktuan-Medan terputus total. Sebab sebagian badan jalan nasional itu juga terlihat sudah amblas. Bahkan lebar badan jalan itu semakin sempit, dulu lebar jalan itu mencapai 8 meter, kini hanya tersisa sekitar 3,5 meter.
Setiap kenderaan harus ektra hati-hati ketika melintasi jalan itu, terutama armada berbadan besar seperti mobil interkuler tronton bermuatan berat, karena jalan itu hanya bisa dilintasi satu truk. “Jika hujan terus mengguyur kawasan itu, kemungkinan lintasan jalan nasional itu akan terputus total,”katanya. Selain mendesak tanggul pengaman tebing itu diperbaiki. Masayarakat setempat juga meminta kepada Pemkab setempat untuk membuka jalan alternatif, yakni jalan tembus antara Pegunungan Pintu Angin dengan Gunung Panorama Hatta. Jalan tembus sepanjang 1200 meter itu sudah dibangun pada tahun 1980 an. Tapi jalan itu hingga kini belum bisa dimanfaatkan karena belum pengerasan.(az)
Sumber : Serambinews.com
Minggu, 06 Maret 2011
Babi Kanibal Usik Warga Tapaktuan
Fri, Jan 28th 2011, 08:00
TAPAKTUAN - Babi identik dengan hama tanaman, terutama tanaman umbi umbian atau palawija dan hortukultura, namun di seputaran Tapaktuan, Aceh Selatan, seperti Desa Batu Itam, Kecamatan Tapaktuan dan sekitarnya, babi berubah menjadi binatang kanibal, karena ikut memangsa ternak warga, seperti ayam dan itik.
Tercatat, ratusan ekor ayam dan itik warga, musnah dilalap sang babi hutan, yang menerobos masuk kampung kala malam hari, atau tepatnya jelang tengah malam.
Keuchik (kades-red) Batu Itam, Alpian, Rabu (26/1) menginformasikan, setelah reda beberapa bulan, kini masyarakatnya kembali diresahkan dengan gangguan babi hutan. Tidak hanya merusak tanaman perkebunan, namun ratusan ekor ternak ayam dan itik milik warga juga ludes dimangsa.
Selain menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat, keganasan binatang itu juga telah mengusik ketenteraman dan kenyamanan masyarakat, terutama pada malam hari, karena babi-babi hutan itu sering berkeliaran di pemukiman penduduk, bahkan kala masih petang hari.
Keganasan babi hutan itu sudah berlangsung lama, namun hingga kini belum ada tindak lanjut dari pemerintah dan instansi terkait. “Kami kewalahan mengatasi hama babi yang kian mengganas dan membuat para petani tidak bisa lagi untuk bercocok tanam,” katanya.
Menurutnya, upaya pembasmian yang dilakukan masyarakat dengan menggunakan cara-cara lama yakni menaburi racun di dekat tanaman dan beberapa cara tradisional seperti membuat perangkap belum membuahkan hasil. Malahan binatang itu semakin mengganas dan merusak tanaman coklat, dan pala yang baru ditanam.
Ia mengatakan, potensi sektor perkebunan di daerah itu sangat besar, yakni pala, coklat dan tanaman muda. Namun dengan ancaman hama yang merajalela, telah membuat sumber mata pencaharian masyarakat petani di desa itu terancam. Apalagi, kata dia, pemerintah sendiri hingga saat ini belum ada solusi untuk penaggulanggan hama-hama tersebut. “Cara meracun babi ini belum memberikan hasil positif, karena yang berhasil diracuni terbilang minim, sementara untuk membuat perangkap masyarakat terkendala dana,” katanya.(az)
Sumber : Serambinews.com
sumber : Serambinews.com
TAPAKTUAN - Babi identik dengan hama tanaman, terutama tanaman umbi umbian atau palawija dan hortukultura, namun di seputaran Tapaktuan, Aceh Selatan, seperti Desa Batu Itam, Kecamatan Tapaktuan dan sekitarnya, babi berubah menjadi binatang kanibal, karena ikut memangsa ternak warga, seperti ayam dan itik.
Tercatat, ratusan ekor ayam dan itik warga, musnah dilalap sang babi hutan, yang menerobos masuk kampung kala malam hari, atau tepatnya jelang tengah malam.
Keuchik (kades-red) Batu Itam, Alpian, Rabu (26/1) menginformasikan, setelah reda beberapa bulan, kini masyarakatnya kembali diresahkan dengan gangguan babi hutan. Tidak hanya merusak tanaman perkebunan, namun ratusan ekor ternak ayam dan itik milik warga juga ludes dimangsa.
Selain menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat, keganasan binatang itu juga telah mengusik ketenteraman dan kenyamanan masyarakat, terutama pada malam hari, karena babi-babi hutan itu sering berkeliaran di pemukiman penduduk, bahkan kala masih petang hari.
Keganasan babi hutan itu sudah berlangsung lama, namun hingga kini belum ada tindak lanjut dari pemerintah dan instansi terkait. “Kami kewalahan mengatasi hama babi yang kian mengganas dan membuat para petani tidak bisa lagi untuk bercocok tanam,” katanya.
Menurutnya, upaya pembasmian yang dilakukan masyarakat dengan menggunakan cara-cara lama yakni menaburi racun di dekat tanaman dan beberapa cara tradisional seperti membuat perangkap belum membuahkan hasil. Malahan binatang itu semakin mengganas dan merusak tanaman coklat, dan pala yang baru ditanam.
Ia mengatakan, potensi sektor perkebunan di daerah itu sangat besar, yakni pala, coklat dan tanaman muda. Namun dengan ancaman hama yang merajalela, telah membuat sumber mata pencaharian masyarakat petani di desa itu terancam. Apalagi, kata dia, pemerintah sendiri hingga saat ini belum ada solusi untuk penaggulanggan hama-hama tersebut. “Cara meracun babi ini belum memberikan hasil positif, karena yang berhasil diracuni terbilang minim, sementara untuk membuat perangkap masyarakat terkendala dana,” katanya.(az)
Sumber : Serambinews.com
sumber : Serambinews.com
Jumat, 04 Maret 2011
Demo Tutup Penambangan Rusuh
Mon, Jan 24th 2011, 20:47
TAPAKTUAN - Aksi unjuk rasa yang dilakukan ratusan warga empat kecamatan yang menuntut penghentian aktivitas pertambangan batu bijih besi di Aceh Selatan, yang dieksplorasi PT Pnang Sejati Utama (PSU), Senin (24/1/2011), berlangsung rusuh. Ekses dari itu kaca kantor bupati pecah akibat dilempari dengan batu.
Para pengunjuk rasa dari berbagai kecamatan dalam wilayah Kluet datang dengan menumpang angkutan umum dan mengendarai sepeda motor (sepmor) tiba di Ibu Kota Tapaktuan sekitar pukul 13.20 WIB.
Mereka berkumpul di halaman kantor bupati lama, di jalan Syech Abdurrauf. Para demonstran kemudian berjalan kaki menuju kantor bupati. Aksi tersebut mendapat perhatian luas dari masyarakat setempat.
Para demonstran mengusung sejumlah poster dengan tulisan antara lain, 'Bupati Husin Yusuf tak Ubahnya Dengan Gayus'. 'Pejabat jangan hanya duduk goyang-goyang kaki, masyarakat setiap hari makan debu'. Massa juga meneriakkan yel-yel meminta Pemkab untuk menghentikan semua aktivitas pertambangan batu bijih besi PT PSU.(azhari)
sumber : Serambinews.com
TAPAKTUAN - Aksi unjuk rasa yang dilakukan ratusan warga empat kecamatan yang menuntut penghentian aktivitas pertambangan batu bijih besi di Aceh Selatan, yang dieksplorasi PT Pnang Sejati Utama (PSU), Senin (24/1/2011), berlangsung rusuh. Ekses dari itu kaca kantor bupati pecah akibat dilempari dengan batu.
Para pengunjuk rasa dari berbagai kecamatan dalam wilayah Kluet datang dengan menumpang angkutan umum dan mengendarai sepeda motor (sepmor) tiba di Ibu Kota Tapaktuan sekitar pukul 13.20 WIB.
Mereka berkumpul di halaman kantor bupati lama, di jalan Syech Abdurrauf. Para demonstran kemudian berjalan kaki menuju kantor bupati. Aksi tersebut mendapat perhatian luas dari masyarakat setempat.
Para demonstran mengusung sejumlah poster dengan tulisan antara lain, 'Bupati Husin Yusuf tak Ubahnya Dengan Gayus'. 'Pejabat jangan hanya duduk goyang-goyang kaki, masyarakat setiap hari makan debu'. Massa juga meneriakkan yel-yel meminta Pemkab untuk menghentikan semua aktivitas pertambangan batu bijih besi PT PSU.(azhari)
sumber : Serambinews.com
Kamis, 03 Maret 2011
Rp 200 Juta Royalti Tambang di Aceh Selatan ‘Menguap’
Mon, Jan 24th 2011, 10:28
TAPAKTUAN - Sebanyak Rp 200 juta royalti dari sektor pertambangan diduga masuk ke kantong oknum pejabat di Pemkab Aceh Selatan. Pasalnya, sudah tiga bulan lebih uang tersebut disetor oleh perusahaan tambang, tapi belum juga dimasukkannya ke kas negara.
Informasi yang diterima Serambi, uang Rp 200 juta itu merupakan royalti dari usaha pertambangan batu yang mengandung bijih besi oleh PT Pinang Sejati Utama (PSU). Royalti yang diduga berasal dari iuran tetap dan iuran eksplorasi itu disetor pihak perusahaan ke kas negara melalui Dinas Pertambangan dan Energi (Dinstamben) Aceh Selatan sebanyak Rp 253 juta.
“Saya sudah setor royalti pertambangan batu bijih besi pada pengapalan ketiga sebesar Rp 253 juta ke kas negara melalui dinas pertambangan dan energi setempat pada Oktober 2010. Soal masuk atau tidak royalti itu ke kas negara tanya saja langsung ke dinas pertambangan,” kata Direktur Utama (Dirut) PT PSU, Hj Latifah Hanum menjawab Serambi, Minggu (23/1).
Tapi, menurut sumber Serambi, jumlah royalti dari PT PSU yang baru masuk ke rekening kas negara hanya Rp 53 juta, sedangkan lebihnya hingga kini belum diketahui rimbanya. Dia duga, uang Rp 200 juta itu masuk ke kantong oknum pejabat setempat.
Yang pasti, Dirut PT PSU, Hj Latifah Hanum menyatakan, royalti itu sudah dia setor dan penyetorannya ditandai dengan kuitansi bukti pembayaran. Kadistamben Aceh Selatan, T Asrul yang dikonfirmasi mengakui pihak PT PSU sudah menyetor royalti pengapalan ketiga pertambangan batu bijih besi sebesar Rp 253 juta. Bahkan Rp 53 juta di antaranya sudah dimasukkan ke rekening kas negara.
Sedangkan lebihnya (Rp 200 juta) masih dipinjam pakai oleh Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setdakab, Tanius untuk kepentingan membayar panjar harga tanah lokasi pembangunan Perusahaan Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Suak Bakong, Kluet Selatan. “Tapi uang yang dipinjam pakai itu dalam waktu dekat dikembalikan ke kas negara,” katanya.
Sementara itu, Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Tanius menyatakan pihaknya tidak pernah meminjam uang dari Distamben Aceh Selatan, sebagaimana pengakuan T Asrul. Ia hanya mengaku ada meminjam uang dari PT PSU Rp 200 juta untuk keperluan membayar panjar pembebasan tanah lokasi pembangunan PLTB. Pembebasan tanah itu, menurutnya, mendesak karena saat itu peletakan batu pertama pembangunan PLTB oleh Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf segera dilaksanakan
Ketika itu harga persil tanah belum dibayar, sementara anggaran yang tersedia di APB Perubahan 2010 belum bisa ditarik. Tanius mengatakan, uang yang dipinjam dari PT PSU sebesar Rp 200 juta itu justru atas sepengetahuan Bupati Aceh Selatan dan akan dilunasi pada Februari 2011, atau setelah APBK 2011 dicairkan. “Saya tidak tahu apakah uang itu merupakan royalti pertambangan batu bijih besi atau bukan. Bisa jadi, pihak perusahaan mengatakan uang itu dari royalti, tapi dalam bon yang diterima tidak pernah tercantum bahwa itu uang royalti pertambangan,” ujarnya. (az)
sumber : Serambinews.com
TAPAKTUAN - Sebanyak Rp 200 juta royalti dari sektor pertambangan diduga masuk ke kantong oknum pejabat di Pemkab Aceh Selatan. Pasalnya, sudah tiga bulan lebih uang tersebut disetor oleh perusahaan tambang, tapi belum juga dimasukkannya ke kas negara.
Informasi yang diterima Serambi, uang Rp 200 juta itu merupakan royalti dari usaha pertambangan batu yang mengandung bijih besi oleh PT Pinang Sejati Utama (PSU). Royalti yang diduga berasal dari iuran tetap dan iuran eksplorasi itu disetor pihak perusahaan ke kas negara melalui Dinas Pertambangan dan Energi (Dinstamben) Aceh Selatan sebanyak Rp 253 juta.
“Saya sudah setor royalti pertambangan batu bijih besi pada pengapalan ketiga sebesar Rp 253 juta ke kas negara melalui dinas pertambangan dan energi setempat pada Oktober 2010. Soal masuk atau tidak royalti itu ke kas negara tanya saja langsung ke dinas pertambangan,” kata Direktur Utama (Dirut) PT PSU, Hj Latifah Hanum menjawab Serambi, Minggu (23/1).
Tapi, menurut sumber Serambi, jumlah royalti dari PT PSU yang baru masuk ke rekening kas negara hanya Rp 53 juta, sedangkan lebihnya hingga kini belum diketahui rimbanya. Dia duga, uang Rp 200 juta itu masuk ke kantong oknum pejabat setempat.
Yang pasti, Dirut PT PSU, Hj Latifah Hanum menyatakan, royalti itu sudah dia setor dan penyetorannya ditandai dengan kuitansi bukti pembayaran. Kadistamben Aceh Selatan, T Asrul yang dikonfirmasi mengakui pihak PT PSU sudah menyetor royalti pengapalan ketiga pertambangan batu bijih besi sebesar Rp 253 juta. Bahkan Rp 53 juta di antaranya sudah dimasukkan ke rekening kas negara.
Sedangkan lebihnya (Rp 200 juta) masih dipinjam pakai oleh Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setdakab, Tanius untuk kepentingan membayar panjar harga tanah lokasi pembangunan Perusahaan Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Suak Bakong, Kluet Selatan. “Tapi uang yang dipinjam pakai itu dalam waktu dekat dikembalikan ke kas negara,” katanya.
Sementara itu, Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Tanius menyatakan pihaknya tidak pernah meminjam uang dari Distamben Aceh Selatan, sebagaimana pengakuan T Asrul. Ia hanya mengaku ada meminjam uang dari PT PSU Rp 200 juta untuk keperluan membayar panjar pembebasan tanah lokasi pembangunan PLTB. Pembebasan tanah itu, menurutnya, mendesak karena saat itu peletakan batu pertama pembangunan PLTB oleh Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf segera dilaksanakan
Ketika itu harga persil tanah belum dibayar, sementara anggaran yang tersedia di APB Perubahan 2010 belum bisa ditarik. Tanius mengatakan, uang yang dipinjam dari PT PSU sebesar Rp 200 juta itu justru atas sepengetahuan Bupati Aceh Selatan dan akan dilunasi pada Februari 2011, atau setelah APBK 2011 dicairkan. “Saya tidak tahu apakah uang itu merupakan royalti pertambangan batu bijih besi atau bukan. Bisa jadi, pihak perusahaan mengatakan uang itu dari royalti, tapi dalam bon yang diterima tidak pernah tercantum bahwa itu uang royalti pertambangan,” ujarnya. (az)
sumber : Serambinews.com
Puluhan Hektare Tanaman Warga Musnah
Gajah Mengamuk di Manggamat
Mon, Jan 24th 2011, 08:52
TAPAKTUAN - Amukan kawanan gajah di pedalaman Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan, belum berakhir. Hingga Minggu (23/1) kemarin satwa yang dilindungi itu masih berkeliaran di Dusun Sarah Baro, Desa Alur Kejruen. Akibat amukan gajah itu telah memporak-porandakan puluhan hektare tanaman milik masyarakat.
Camat Kluet Tengah, M Hasbi kepada Serambi, Minggu (23/1) melaporkan, setelah mengganas di Desa Koto yang mengakibatkan salah seorang warga setempat, Syamsuddin (30) meninggal setelah diamuk gajah awal Dersember 2010, kini kawanan gajah liar mulai berkeliaran dan memporak-porandakan tanaman pertanian milik warga Dusun Sarah Baro, Desa Alur Kejruen.
Selain merusak tanaman padi, cokelat dan pinang, binatang bertubuh bongsor itu juga sudah menghancurkan sejumlah gubuk milik warga. Bahkan binatang itu juga dilaporkan mulai mengejar-ngejar warga.
Dikatakan, konflik satwa terutama gajah dengan warga yang telah berlangsung lama itu hingga kini belum mendapat perhatian dari pemerintah atau instansi terkait untuk menggiring kawanan gajah-gajah itu kembali ke habitatnya.
Menurut dia, warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani itu telah melakukan upaya pengusiran secara tradisional seperti membuat bola api, mercon dan bunyi-bunyian namun belum menunjukan hasil yang diharapkan. Bahkan, katanya, sejak warga membunyikan mercon dan meriam bambu, binatang dilindungi itu semakin mengganas dan terus merusak tanaman perkebunan dan pertanian di sekitar rumah penduduk, seta mengejar-ngejar warga. Camat M Hasbi juga mengaku sudah berulangkali melaporakan amuk gajah itu ke BKSDA dan Pemerintah Provinsi, namun hingga kini belum ada tindak lanjutnya.(az)
Sumber : Serambinews.com
Mon, Jan 24th 2011, 08:52
TAPAKTUAN - Amukan kawanan gajah di pedalaman Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan, belum berakhir. Hingga Minggu (23/1) kemarin satwa yang dilindungi itu masih berkeliaran di Dusun Sarah Baro, Desa Alur Kejruen. Akibat amukan gajah itu telah memporak-porandakan puluhan hektare tanaman milik masyarakat.
Camat Kluet Tengah, M Hasbi kepada Serambi, Minggu (23/1) melaporkan, setelah mengganas di Desa Koto yang mengakibatkan salah seorang warga setempat, Syamsuddin (30) meninggal setelah diamuk gajah awal Dersember 2010, kini kawanan gajah liar mulai berkeliaran dan memporak-porandakan tanaman pertanian milik warga Dusun Sarah Baro, Desa Alur Kejruen.
Selain merusak tanaman padi, cokelat dan pinang, binatang bertubuh bongsor itu juga sudah menghancurkan sejumlah gubuk milik warga. Bahkan binatang itu juga dilaporkan mulai mengejar-ngejar warga.
Dikatakan, konflik satwa terutama gajah dengan warga yang telah berlangsung lama itu hingga kini belum mendapat perhatian dari pemerintah atau instansi terkait untuk menggiring kawanan gajah-gajah itu kembali ke habitatnya.
Menurut dia, warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani itu telah melakukan upaya pengusiran secara tradisional seperti membuat bola api, mercon dan bunyi-bunyian namun belum menunjukan hasil yang diharapkan. Bahkan, katanya, sejak warga membunyikan mercon dan meriam bambu, binatang dilindungi itu semakin mengganas dan terus merusak tanaman perkebunan dan pertanian di sekitar rumah penduduk, seta mengejar-ngejar warga. Camat M Hasbi juga mengaku sudah berulangkali melaporakan amuk gajah itu ke BKSDA dan Pemerintah Provinsi, namun hingga kini belum ada tindak lanjutnya.(az)
Sumber : Serambinews.com
Langganan:
Postingan (Atom)