Rabu, 10 Agustus 2011

Masyarakat Adat Teurbangan Tetap Tolak PT PSW

Aceh - Sabtu, 09 Jul 2011 10:52 WIB

Tapaktuan, (Analisa). Aliansi Masyarakat Adat Teurbangan (AMAT) Pasie Raja Aceh Selatan me nyatakan, mereka tetap menolak kehadiran PT Pinang Sejati Wati (PSW) yang merupakan anak perusahaan PT Pinang Sejati Utama (PSU) untuk mengeksploitasi bijih besi di kawasan seluas 1.200 Hektare lahan milik masyarakat.
"Sampai kapanpun kami tetap menolak, apalagi rencana penambangan tersebut tidak melalui studi kelayakan dan persetujuan masyarakat pada umumnya," kata Kordinator AMAT Pasie Raja, Surya Dharma, kepada Analisa di Tapaktuan, Jumat (8/7).

Diungkapkan, manajemen PT PSW, sempat membujuk masyarakat Pasei Raja untuk menyerahkan lahannya yang potensial bagi deposit bijih besi. "Tetapi umumnya masyarakat di sana tetap solid dan konsisten untuk tidak memberikan lahan garapan pertambangan itu kepada pihak perusahaan," kata pengurus AMT lainnya.

Menurut warga, kehadiran perusahaan pada kawasan pertambangan akan tetap menjadi sumber kehancuran sosial kemasyarakatan dan lingkungan hidup. Bukti-bukti yang sudah terlihat yakni di Gampong Simpang II Meunggamat Kluet Tengah Aceh Selatan oleh PT PSU yang akhirnya merusak lingkungan, terhentinya aliran sungai dan hancurnya badan jalan kabupaten.

Kalaupun kemudian pengangkutan bijih besi tidak lagi melalui badan jalan Kotafajar-Meunggamat Kluet Tengah, namun sisa-sisa kehancuran badan jalan itu belum bias dihapuskan. Alhasil, Pemkab Aceh Selatan yang harus membangun badan jalan tersebut di tengah sulitnya anggaran pembangunan.

Anggota DPRK Aceh Selatan, Martunis dari Fraksi Partai Aceh, sependapat dengan warga yang menolak kehadiran persuahaan pertambangan yang rencananya mengeksploitasi bijih besi pada bentangan lahan Gampong ujung Batu-Paya Ateuk seluas 1.200 Ha.

"Saya mendapat laporan dan menangkap aspirasi rakyat setempat bahwa mereka tetap menolak karena rencana itu di lahan milik warga," katanya. Menurutnya, terdapat alasan lain yang juga sangat rasional bila ada penolakan tersebut, selain hancurnya lahan masyarakat juga akan terjadi monopoli oleh sebuah perusahaan.

Kepala Dinas Pertambangan dan SDM Aceh Selatan, T Asrul SHut, yang ditanyai Analisa di Tapaktuan, Rabu lalu, tidak mengetahui persis rencana penggarapan tambang bijih besi oleh PT PSW di Pasie Raja.

Secara eksplisit, dia juga tidak sependapat bila hanya ada sebuah perusahaan yang melakukan ekploitasi di Aceh Selatan, karena kesannya akan monopolistk. "Janganlah hanya perusahaan-perusahaan itu-itu saja yang menambang bijih besi," katanya.

Sejauh ini, operasional penambangan bijih besi PT PSU di Simpang II Meunggamat Kluet Tengah belum dapat dihentikan kendati rekomendasi penutupan operasional oleh DPRK Aceh Selatan sudah disampaikan.

Bahkan, pertimbangan Pemkab Aceh Selatan pun mengarah kepada penutupan, namun perusahaan penambang mineral bijih besi itu masih leluasa melakukan operasionalnya.

"Sekarang ini PT PSU telah membuka 200 Ha lagi areal penambangan di Gampong Simpang III Meunggamat yang bekerja sama dengan sebuah KSU setempat," sebut sumber di Pemkab Aceh Selatan, Jumat (8/7).

Pemerintah provinsi dan kabupaten hendaknya tidak menutup mata dampak ekologis dan sosial sebagaimana direkomendasikan hampir semua fraksi di DPRK. (m)

Sumber Analisadaily.com

Aceh Selatan Krisis Air Bersih

TUESDAY, 26 JULY 2011 10:16

TAPAKTUAN - Masyarakat enam desa di Kecamatan Trumon Tengah, Kabupaten Aceh Selatan yang berada di lereng gunung dalam beberapa hari ini mengalami krisis air bersih. Kondisi ini disebabkan sumber air pegunungan yang mengairi rumah mereka mengalami kekeringan menyusul musim kemarau yang terjadi dalam sebulan terakhir.

Camat Trumon Tengah, Abdul Munir, mengatakan ratusan kepala keluarga masyarakat enam desa mulai di wilayahnya mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Meski masyarakat yang berdomisili di lereng gunung itu sudah bergotong royong mencari sumber air bersih yang layak, namun tidak berhasil, karena semua alur dan mata air di pegunungan itu sudah kering.

Kondisi ini diperparah dengan menyusutnya debit air sungai sehingga warga terpaksa mandi dan mencuci di air sungai berwarna kuning yang sudah terkontaminasi kotoran manusia dan limbah rumah tangga. Sementara untuk kebutuhan memasak dan air minum warga terpaksa membeli air bersih isi ulang di kios dengan harga Rp5.000 per galon.

Menurutnya, warga mulai khawatir bila dampak kekeringan itu tidak segera diatasi dengan cara membangun sumber air bersih yang memadai. “Warga sangat menantikan adanya upaya pemerintah daerah untuk membangun sarana air bersih yang memadai,” katanya, tadi pagi.

Enam desa di Kecamatan Trumon Tengah yang mengalami krisis air bersih itu, meliputi Desa Ladang Rimba, Pulau Paya, Cot Bayu, Jambo Papeun, Naca dan Lhok Raya

Sumber Waspada.co.id

Senin, 08 Agustus 2011

DAS Rampong Ancam Pemukiman Warga

FRIDAY, 08 JULY 2011 21:40

TAPAKTUAN - Erosi atau pengikisan yang terjadi pada Sungai Rambong, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan, akibat hantaman arus deras setiap musim penghujan kini semakin parah. Bahkan kerusakan daerah aliran sungai (DAS) itu dapat mengancam keselamatan ratusan rumah dan lahan perkebunan warga yang berada di sepanjang aliran sungai itu.

Camat Samadua, Said Junaidi, mengatakan masyarakat lima desa dalam Kemukiman Suak, yakni Desa Lubuk Layu, Air Sialang Hulu, Air Sialang Hilir, Jilatang dan Suak Hulu, kini semakin diresahkan dengan erosi Sungai Rambong yang dalam beberapa bulan terakhir ini terus menggerus bibir jalan dan perkampungan penduduk.

Selain mengancam badan jalan desa dan perkampungan penduduk, erosi sungai itu juga mengancam ratusan kuburan umum, dan fasiltas umum lainnya. Bahkan satu unit bangunan tempat berwudu Mushalla Dusun Aur, Desa Payau Nan Gadang kini dalam kondisi miring dan retak-retak karena tanggul pengaman tebing sudah ambruk diterjang arus.

Sumber waspada.co.id

Kamis, 04 Agustus 2011

20 Ha lahan perkebunan Aceh terbakar

MONDAY, 27 JUNE 2011 21:05

BANDA ACEH - Sekitar 20 hektare lebih lahan perkebunan di kawasan hutan Ladang Panjang Gampong (Desa) Ladang Rimba Kecamatan Bakongan Timur Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh, dilaporkan rusak berat akibat terbakar.

Tokoh pemuda Kecamatan Bakongan Timur, T Syamsinahya (25) di pusat ibu kota Kabupaten Aceh Selatan, Tapaktuan, Senin mengatakan kebakaran yang terjadi sejak beberapa hari terakhir ini telah menghanguskan delapan hektare perkebunan kakao dan sawit.

"Hingga saat ini apinya terus meluas, kalau dibiarkan tentu akan bertambah parah, saat ini saja sudah 20 hektare lebih sudah terbakar," kata T Syamsinahya.

Sumber api diduga dari pembakaran lahan perkebunan yang dilakukan warga. Menurutnya, warga dari berbagai desa di kecamatan yang berjarak sekitar 70 Km arah timur ibu kota kabupaten itu secara gotong royong berupaya melakukan pemadaman.

Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kabupaten Aceh Selatan itu berharap pemerintah atau pihak untuk melakukan penanganan."Kami berharap pemerintah untuk melakukan upaya pemadaman agar kerugian dapat diminimalisir serta mencegah kemungkinan yang tidak diinginkan," katanya lagi.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kehutanan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Selatan, T Masrul, mengatakan kebakaran lahan yang terjadi di Kecamatan Bakongan itu akibat pembakaran rumput di kebun milik warga.

"Daerah itu kawasan hutan gambut, kami akan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana untuk mengatasinya," kata T Masrul.

sumber waspada.co.id

Selasa, 02 Agustus 2011

Bakongan Mulai Diselimuti Kabut Asap

20 June 2011
Tapaktuan | Harian Aceh – Sebagian besar wilayah Kecamatan Bakongan Kabupaten Aceh Selatan dalam seminggu terakhir mulai diselimuti kabut asap, akibat kebakaran lahan di daerah tersebut.
Keuchik Drien Bakongan, Abdul Kadir, kepada Harian Aceh, Minggu (19/6) mengatakan, kabut asap terlihat jelas menutupi sebagian besar wilayah di sana pada jam malam hingga pagi hari. “ Tetapi memasuki siang hari, kabut terus menipis, kecuali ada angin kencang, asap kembali tampak senja hari,” katanya.
Menurutnya, asap tersebut berasal dari lahan gambut yang terbakar di dua lokasi, yakni di gampong Drien terbakar sejak Senin (13/6) lalu dan di perbatasan gampong Ujong Padang dengan gampong Keude Bakongan yang terbakar sejak Kamis (16/6).
Areal terbakar diperkirakan sudah mencapai puluhan hektar. Padahal, kata dia, masyarakat telah berupaya untuk memadamkan kebakaran tersebut, bahkan telah mengerahkan mesin penghisap dan penyemprot air, namun api yang merambat dibagian bawah lahan tidak juga dapat dipadamkan.
Kadir melaporkan, sementara ini masyarakat yang berada di tiga gampong dalam keadaan waspada dan terus berjaga-jaga untuk antisipasi merembetnya api kepemukiman penduduk, sebab cuaca ekstrim belakang ini, memungkinkan hal itu terjadi. “Untuk itu Pemerintah di Kecamatan telah menempatkan satu unit mobil PMK, namun wilayah kerjanya hanya di bagian tepi yang dapat dilalui, sedangkan bagian terdalam tidak terjangkau,” sambungnya.
Sementara itu, Subki Anggota DPR Kabupaten Aceh Selatan berharap kerja sama yang telah dibangun masyarakat ini dapat menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten, sehingga dapat ditingkatkan lagi dengan membentuk masyarakat peduli api guna penanganan dini, mengingat kecamatan Bakongan rawan terjadi kebakaran lahan.
Selain itu, kata politisi Partai Aceh asal Bakongan ini, dengan upaya kerja sama pemerintah di kecamatan, melalui sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan pembukaan lahan tanpa bakar, masyarakat dapat sadar dan peduli lingkungan. “Mudah-mudahan langkah ini dapat meminimalisasi timbulnya titik api baru di Bakongan,” harapnya.(cia)

Sumber Harian Aceh.com

Senin, 01 Agustus 2011

Flu Burung Resahkan Warga Tapaktuan

TUESDAY, 07 JUNE 2011 23:11

TAPAKTUAN - Serangan flu burung (Avian Influenza) yang melanda kawasan Gampong Lhok Ketapang, Kec. Tapaktuan, Kab. Aceh Selatan yang mengakibatkan ratusan ekor burung dan puluhan ternak ayam mati mendadak, mengundang keresahan warga.

Pasalnya, penyakit yang mamatikan dikhawatirkan bisa mewabah terhadap manusia. Sejauh ini belum ada penanganan dari dinas terkait, meski hasil penelitian dinyatakan penyakit flu burung positif berjangkit dan menyerang ternak warga.

Warga Lhok Ketapang, mengatakan kekecewaannya terhadap Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Aceh Selatan. Mereka menuding dinas cuek dan santai mengatasi dan menanggulangi serangan penyakit mematikan itu. “Bayangkan mereka masih cuek menanganinya, mungkin menunggu ada korban manusia,” sebut Darwin, 60.

Sementara Sekretaris Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Selatan, Ismail Us, yang dihubungi di kantornya, mengaku pihaknya kesulitan menangani, karena persoalan dana, meliputi biaya pengadaan obat-obatan, honor petugas serta biaya konvensasi bagi ternak ayam warga yang harus dimusnahkan dalam radius 1.000 meter dari lokasi penemuan pertama.

Menurut dia, dana penanggulangan tersebut tidak tersedia di dinasnya, sehingga terpaksa minta dana bantuan hibah kepada bupati. ”Kita telah mengajukan permohonan bantuan Rp15 juta, tapi sejauh ini belum ada realisasinya,” sebut Ismail didampingi Kabid Keswan, Hamzah.

Ia mengakui penanganan penyakit tersebut harus segera dilakukan karena bisa mewabah terhadap ternak di daerah lain termasuk bagi manusia. Sebagai langkah antisipatif sementara, ternak ayam di lokasi yang telah terserang, hendaknya tidak dikonsumsi atau dibawa ke daerah lain.

Sumber Waspada.co.id

Selasa, 26 Juli 2011

Transportasi Laut di Bulohseuma Kembali Terganggu

Mulut Muara Tertutup Sidimen
Tue, May 24th 2011, 08:38

TAPAKTUAN- Transportasi laut dari Keude Trumon ke Bulohseuma, Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, sejak Minggu (22/5) sore kembali lumpuh, karena kapal motor tidak beroperasi menyusul mulut muara Bulohseuma tersumbat oleh pasir.

Camat Trumon Isa Ansari, kepada Serambi, Senin (23/5) mengatakan, transportasi laut ke Bulohseuma yang sempat normal dua hari setelah dua pekan lumpuh akibat gelombang tinggi, kini jalur laut ke kawasan itu kembali terganggu, sehingga mengakibatkan tiga desa di daerah terpencil itu kembali terisolasi, yakni Desa Kuta Padang, Rakit dan Gampong Tengoh.

Dikatakan, terganggunya jalur laut ke kawasan itu bukan karena gelombang tinggi. Melainkan karena mulut muara Bulohseuma tertutup sedimen setelah dihantam arus laut Minggu sore, sehingga mengakibatkan kapal motor yang selama ini dijadikan sebagai alat transportasi masyarakat tidak bisa keluar masuk di dalam muara dimaksud.

Bukan hanya mengganggu transportasi masyarakat, namun kondisi ini juga mengakibatkan sebagian besar nelayan di kawasan itu tidak bisa melaut, terutama nelayan yang menggunakan perahu ukuran besar.

Menurut Isa Ansari, pendangkalan yang terjadi pada mulut muara Bulohseuma itu bukan yang pertama, namun peristiwa sudah sering terjadi, terutama pada musim barat seperti yang terjadi pada saat sekarang, karena pada musim tersebut air laut sangat deras mengalir ke tepi.

“Kapal motor dan boat nelayan itu bisa kembali beroperasi setelah warga bergotong royong menggali gumpalan pasir yang menutup mulut muara itu,”katanya. (az)

Sumber : Serambinews.com