Kamis, 31 Maret 2011

Sumur Kering, Warga Bakongan Krisis Air Bersih

Sun, Feb 20th 2011, 08:47

TAPAKTUAN – Krisis air bersih mulai melanda warga di kompleks perumahan Padang Berakan, Desa Keude Bakongan, Kecamatan Bakongan, Aceh Selatan. Akibatnya ratusan korban tsunami mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Mawardi (40), seorang penghuni rumah bantuan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) di Desa Keude Bakongan, kepada Serambi Sabtu (19/2) mengatakan, dalam dua pekan terakhir ini krisis air bersih mulai dirasakan masyarakat. Sebab, sumur yang mereka miliki sudah kering kerontang.

Untuk mengatasi kebutuhan air bersih, maka warga terpaksa mengangkut air dari rumah warga yang berjauhan. “Kami saat ini kesulitan air bersih, karena sumur-sumur di sekitar komplek itu sudah kering akibat kemarau,”katanya. Hal ini dibenarkan Wakil Ketua DPRK Aceh Selatan, Khaidir Amin SE. Menurutnya, krisis air bersih di komplek perumahan tsunami ini bukanlah yang pertama, kasus serupa juga pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Sementara air bersih dari PDAM yang dibangun 10 tahun lalu itu hingga kini belum bisa dimanfaatkan, karena pembangunan jaringan air belum sampai ke komplek perumahan yang dihuni 228 kepala keluarga (KK) itu.

Karena itu warga sangat berharap agar PDAM Tirta Naga Tapaktuan, dapat menyalurkan air bersih ke rumah penduduk. Selain mengeluhkan air bersih, warga juga mengeluhkan karena perkarangan rumah dikomplek perumahan itu sering digenangi air akibat belum dibangunnya saluran pembuang. “Saya rasa masalah pembangunan saluran dan jaringan PDAM sudah dianggarkan dalam APBA 2011. Mudah-mudahan tahun depan masyarakat korban tsunami di komplek itu sudah bisa menikmati air bersih,”katanya.(az)

Sumber : Serambinews.com

Tim Pansus DPRK Aceh Selatan: Tutup Pertambangan Bijih Besi

Sat, Feb 19th 2011, 11:24

TAPAKTUAN - Ketua Tim Pansus DPRK Aceh Selatan bersama wakil ketua dan 14 anggoata DPRK setempat, merekomendasi kepada Ketua DPRK setempat agar meminta eksekutif mencabut segera seluruh izin usaha pertambangan batu bijih besi di kawasan Desa Simpang Dua Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah. Soalnya, usaha produksi pertambangan yang dilakukan KSU Tiega Manggis dan PT Pinang Sejati Utama (PT PSU) itu telah melanggar Undang-Undang tentang Pengelolaan Usaha Pertambangan.

Deni Irmansyah, salah seorang anggota Tim Pansus DPRK Aceh Selatan, kepada Serambi, Jumat (18/2) mengatakan, rekomendasi penghentian seluruh aktivitas pertambangan batu bijih besi di Desa Simpang Dua Manggamat yang dieksploitasi PT PSU itu, akan diserahkan kepada ketua DPRK setempat untuk selanjutnya disidangparipurnakan. Kemudian, akan di-follow up bersama eksekutif. Selain direkomendasi untuk diparipurnakan, hasil pansus itu juga akan disampaikan kepada penegak hukum agar menindaklanjuti dugaan-dugaan penyimpangan yang ditemukan tim pansus. Tim ini dikoordinir oleh Khaidir SE.

Menurut Deni Irmansyah, awalnya semua pihak merasa antusias dan menaruh harapan positif atas dibukanya sektor pertambangan di daerah itu. Warga dan pemerintah setempat berharap akan tercipta lapangan kerja yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan daerah. Akan tetapi, ketika pertambangan bijih besi mulai berjalan, perbedaan pandangan mulai muncul, sehingga menimbulkan konflik di kalangan anggota masyarakat. Bentrokan antara masyarakat Desa Koto Manggamat dengan oknum angkutan Kluet Raya Motor (KRM) yang terjadi Selasa (15/2) malam, merupakan salah satu dari sejumlah persoalan di sana yang berpotensi memicu konflik horizontal.

Sebagaimana dilaporkan dua hari lalu, bentrokan warga Desa Koto Manggamat, Kluet Tengah, dengan sekelompok awak angkutan KRM itu mengakibatkan satu unit mobil Kijang kapsul milik anggota KRM dan dua unit rumah hangus dibakar. Selain itu, salah satu rumah aktivis LSM yang sedang mengadvokasi kasus ini juga dirusak. “Ini semua ekses dari usaha pertambangan itu,” ujar Deni. Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, karena dampaknya dapat lebih luas dan kompleks terhadap masyarakat Aceh Selatan yang sedang menikmati suasana damai.

Ia juga menyesalkan tindakan PT PSU menghalang-halangi anggota Pansus DPRK Aceh Selatan masuk ke lokasi penambangan mereka di Desa Simpang Dua Manggamat maupun di Sock Pile PT PSU di Ujung Pulo Cut, Bakongan Timur. Padahal tim itu datang untuk memastikan ada tidaknya penyelewengan dalam pengelolaan pertambangan bijih besi di lingkungan perusahaan itu. “Menghalang-halangi anggota pansus itu merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara maupun Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2010 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara,” ujarnya.(az)

Sumber : Serambinews.com

Senin, 28 Maret 2011

Beruang Pemangsa Tewas Ditombak

Warga Minta BKSDA Turun Tangan
Sat, Feb 12th 2011, 12:04


TAPAKTUAN - Seekor beruang jantan yang dalam dua pekan terakhir ini kerap memangsa ternak masyarakat di kemukiman Panton Pawoh, Kecamatan Labuhan Haji Barat, Kabupaten Aceh Selatan, Kamis (10/2) sore ditemukan tewas dalam semak. Informasi tewasnya binatang buas itu diterima Prohaba dari Geuchik Panton Pawoh, Labuhan Haji Barat, Adami HB, Jumat (11/2). Menurutnya, binatang berkuku tajam yang biasanya memakan buah-buahan itu ditemukan tewas sekitar pukul 16.20 WIB dalam semak di Dusun Rubek, Desa Panton Pawoh. Binatang itu tewas ditombak oleh masyarakat dengan tombak babi ketika saat sedang berkeliaran di mukiman penduduk.

Hal itu dilakukan akibat kekecewaan dengan sikap Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang tidak respon dengan keresahan masyarakat akibat gangguan beruang itu. Mereka khawatir jika gangguan beruang itu tidak segera ditanggulangi binatang itu akan mengejar dan menerkam warga. Kekhawatiran itu masih menyelimuti masyarakat sekitar, karena pasangan betina dari binatang yang terbunuh itu masih berkeliaran di pemukiman penduduk. Binantang itu tidak hanya berkeliaran di malam hari, namun dalam sepekan ini juga kerap muncul di siang hari.

Kondisi ini semakin membuat anak-anak di sejumlah desa, yakni Desa Kuta Trieng, Pante Geulima, Pulo Ie dan Panton Pawoh enggan untuk bepergian ke tempat pengajian pada malam hari. Karena itu, masyarakat berharap kepada BKSDA untuk segera menangkap atau mengusir binatang itu kembali kehabitatnya.

“Muspika sudah berulangkali melaporkan gangguan binatang itu ke BKSDA, namun hingga kini belum ada terlihat tanda-tanda akan antisipasi,”katanya. Selain itu, beruang yang berjumlah dua ekor tersebut diduga telah memangsa ratusan ekor ternak ayam milik warga, serta merusak sejumlah kandang ayam dan dinding bangunan dapur rumah warga beserta perlengkapan rumah tangga. Bahkan sehari sebelum terbunuh, binatang itu juga sudah memangsa puluhan ekor ternak ayam di tiga kandang milik warga Desa Panton Luas. “Masyarakat juga tidak ingin membunuh satwa dilindungi itu, karena takut dengan hukum. Tapi hukum sendiri tidak menghargai masyarakat,”ujarnya seraya mengatakan, masyarakat akan menuntut kerugian ke BKSDA.(az)

Sumber : Serambinews.com

Tim Pansus DPRK Gagal Masuk ke Areal Pertambangan PT PSU

Tak Miliki Izin Masuk
Sat, Feb 12th 2011, 09:08

TAPAKTUAN – Tim Pansus DPRK Aceh Selatan bersama sejumlah instansi terkait Jumat (11/2), gagal melakukan pansus ke Pelabuhan Desa Ujung Pulo Rayeuk, Kecamatan Bakongan Timur, tempat penimbunan material pertambangan batu bijih besi milik PT Pinang Sejati Utama (PT PSU). Tim Pansus yang berjumlah sembilan orang didamping sejumlah pegawai dari instansi terkait itu tidak diperbolehkan masuk ke areal tersebut.

Bahkan sehari sebelumnya, Kamis (10/2) tim yang di SK kan Ketua DPRK itu juga diusir di areal pertambangan di Desa Simpang Dua Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah. Ketua Komisi D DPRK Aceh Selatan, Zulfar Arifin, kepada Serambi Jumat (11/2) mengatakan, sejak Kamis (10/2) pihaknya melakukan pansus ke Desa Simpang Dua Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah lokasi ekploitasi pertambangan batu bijih besi PT PSU dan Desa Ujong Pulo Rayeuk, Kecamatan Bakongan Timur ke lokasi penumpukkan material pertambangan itu.

Tapi sangat disayangkan anggota DPRK yang berjumlah sembilan orang dengan didampingi sejumlah staf dari Dinas Perhubungan, Dinas Perkebunan dan Kehutanan, Badan Pengendali Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) gagal masuk ke lokasi perusahaan karena dihadang oleh petugas keamanan perusahaan itu. Meski tim pansus itu menyatakan kehadirannya ke lokasi itu sah dan legal serta memiliki legalitas kewenangan yang berkekuatan hukum sesuai mandat yang diemban, dalam melaksanakan tugas pansus melakukan penyelidikan berbagai macam dugaan penyimpangan di lapangan. Tapi petugas keamanan dan security di perusahaan itu tetap ngotot tidak memperbolehkan tim itu masuk ke areal tambang bijih besi itu.

Insiden itu sempat menimbulkan ketegangan antara tim pansus dengan pihak perusahaan. Bahkan Manajer Lapangan PT PSU, Supriadi kepada rombongan yang ikut dihadiri unsur Muspika Kluet Tengah itu sempat mengeluarkan kata-kata, siapa saja yang tidak memiliki izin dari Direktur PT PSU tidak dibolehkan masuk, sekalipun seorang presiden. Padahal tujuan turun ke lokasi adalah untuk mengecek langsung laporan masyarakat.

Atas kejadian ini, perusahaan tersebut jelas telah mempermalukan lembaga dewan yang merupakan representasi rakyat Aceh Selatan. Karenanya, patut dicurigai ada tindakan yang tidak sehat dilakukan perusahaan tersebut di lokasi pertambangannya. “Kalau tidak kenapa mereka menghalangi-halangi tugas Tim Pansus,”katanya. Zulfar menambahkan, turunnnya Tim Pansus DPRK ke lokasi tersebut untuk menindaklanjuti laporan dan pengaduan masyarakat bahwa telah terjadi pelanggaran yang membuat masyarakat setempat menjadi resah. Selain masalah jalan kabupaten lintasan Manggamat-Kotafajar yang rusak parah akibat aktivitas pertambangan batu bijih besi itu hingga kini belum diperbaiki, juga menindaklajuti masalah dugaan perluasan titik kordinat yang diekploitasi perusahaan itu. “Hal ini tidak hanya dialami Tim Pansus DPRK Aceh Selatan, namun sebelumnya, nasib serupa juga dialami oleh tim verifikasi gabungan bentukan Pemkab Aceh Selatan dan tim verifikasi DPRA Aceh pada tahun 2010 lalu,”katanya.(az)

Sumber : Serambinews.com

Senin, 21 Maret 2011

Lima Hektare Tambak Ikan di Labuhan Haji Disapu Banjir

Sun, Feb 6th 2011, 08:36

TAPAKTUAN – Lebih kurang 5 hektare tambak ikan milik masyarakat di Desa Suak Lokan, Pulau Ie dan Blang Baro, Kecamatan Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan, disapu banjir luapan.

Tgk Muhammad Amin, seorang pemilik tambak kepada Serambi, Sabtu (5/2) mengatakan, sebanyak 300.000 ekor ikan siap panen yang dibudidaya di areal tambak seluas 5 hektare lebih telah disapu banjir luapan yang terjadi Rabu hingga Kamis (3/2) lalu. Luapan banjir itu sendiri terjadi akibat mulai mendangkalnya aliran Krueng Baru. “Kerugian yang saya alami kira-kira mencapai Rp 500 juta, karena sebanyak 150.000 ikan mas dan 150.000 ikan bawal sudah siap panen,”katanya.

Dia berharap Pemerintah Aceh melalui dinas terkait bisa segera melakukan normalisasi aliran sungai yang membelah Kabupaten Abdya dan Aceh Selatan itu. Sebab jika kondisi itu terus dibiarkan, maka ratusan hektare areal pertanian dan puluhan hektare tambak warga di kawasan tersebut disapu banjir, terutama setiap musim penghujan.

Pantauan Serambi di lokasi tambak tersebut, Sabtu (5/2), sebanyak lima hektare lebih areal tambak warga yang disebut-sebut siap panen itu terlihat kosong. Kondisi ini mengundang keprihatinan masyarakat setempat yang acap memanfaatkan lokasi tersebut sebagai tempat rekreasi.

Enggan bercocok tanam
Sementara itu, di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), sejumlah masyarakat petani di Kecamatan Kuala Batee mulai merasa pesimis dan ingin mengurungkan niatnya untuk bercocok tanam. Pasalnya, setiap musim hujan tanaman palawija milik mereka selalu mengalami gagal panen akibat diterjang banjir. Mereka berharap pemerintah bisa segera melakukan normalisasi aliran sungai Krueng Batee, sungai Kuala Batu, dan parit di kawasan Lueng Giri Desa Lhok Gajah.

Menurut M Daud, pascabanjir luapan yang terjadi Kamis (3/2) lalu, belasan hektare tanaman palawija dan holtikutura milik masyarakat petani di kecamatan itu mengalami gagal panen. Kondisi ini memunculkan keprihatinan dan kekecewaan masyarakat petani yang cuma memiliki lahan untuk bercocok tanam dikawasan rawan banjir itu.(tz)

Sumber : Serambinews.com

Rute Angkutan Bijih Besi Dialihkan ke Pasie Raja

Sat, Feb 5th 2011, 10:02

TAPAKTUAN - Tuntutan masyarakat yang meminta Pemkab Aceh Selatan untuk menghentikan lintasan Manggamat-Kotafajar untuk pengangkutan bijih besi milik PT Pinang Sejati Utama (PT PSU) akhirnya terpenuhi. Angkutan material bijih besi itu dialihkan ke Kecamatan Pasie Raja, yakni jalan alternatif yang dibangun PT PSU sendiri. Sekdakab Aceh Selatan, Drs H Harmaini M Si mengakui telah dialihkan jalan untuk truk pengangkut bijih besi ke Pasie Raja. Menurutnya, pengalihan rute pengangkut batu bijih besi itu merupakan hasil kesepakatan antara bupati dengan Muspida yang dilaksanakan di ruang kerja bupati Selasa (1/2) lalu.

Dalam melaksanakan aktivitasnya dari tempat penimbunan di Desa Seneubok, Kecamatan Pasie Raja ke lokasi penimbunan ke pelabuhan Desa Ujung Pulo Rayeuk melintasi jalan negara itu tidak boleh melebihi daya angkutan yang ditetapkan. Meskipun rute pengangkutan batu bijih besi dari lokasi penimbunan di Kecamatan Pasie Raja ke tempat penimbunan ke Pelabuhan Gampong Ujung Pulo melintasi jalan negara dengan menggunakan angkutan Kluet Raya Motor (KRM). Namun pihak PT PSU tetap diwajibkan untuk memperbaiki kerusakan jalan kabupaten lintasan Manggamat-Kotafajar sebagaimana mestinya.”PT PSU harus memperbaiki jalan yang rusak akibat aktivitas pertambangan itu seperti sediakala. Jika tidak, ekploitasi pertambangan bijih besi akan dihentikan,”katanya.(az)

Sumber : Serambinews.com

Jumat, 18 Maret 2011

Ratusan Rumah Diterjang Banjir Saat Tolak Bala

* Tiga Kabupaten Terendam
Fri, Feb 4th 2011, 10:57


Puluhan rumah di Desa Bulu Sema, Kecamatan Suro, Aceh Singkil, Kamis (3/2) dini hari direndam banjir, akibat meluapnya sungai Bulu Sema. Banjir juga merendam puluhan hektar sawah dan merusak lintas jalan Singkil-Subulussalam di kawasan itu sepanjang 200 meter. SERAMBI/DEDE ROSADI

TAPAKTUAN - Bala ditolak, bencana datang. Itulah yang terjadi di sebagian Kabupaten Aceh Selatan, Rabu (2/2) sore. Sejak pagi, mayoritas warga di sana tumplek ke pinggir pantai, menghadiri hari tolak bala (Rabu habeh, Rabu terakhir di bulan Safar). Tak dinyana, sorenya terjadi banjir akibat hujan deras sejak pagi, sehingga ratusan rumah penduduk di Kecamatan Labuhan Haji dan Labuhan Haji Barat terendam.

Banjir juga melanda Aceh Barat Daya (Abdya) dan Aceh Singkil pada hari yang sama. Di Abdya, lantai jembatan permanen Desa Ujong Tanoh, Kecamatan Setia patah, kemudian ambruk dalam posisi melengkung setelah dihantam banjir, Rabu sore. Puluhan rumah tergenang. Di Singkil, puluhan rumah, sawah, dan jalan lintas Singkil-Subulussalam di Desa Buluseuma, Kecamatan Suro, terendam banjir. Tinggi air mencapai dua meter pada Kamis dini hari.

Sebagaimana dilaporkan, sejak Rabu (2/2) pagi hujan deras mengguyur kawasan Aceh Selatan. Hanya reda sebentar menjelang siang, sehingga tetap memungkinkan warga setempat beramai-ramai menghadiri hari tolak bala (uroe pajoh-pajoh).

Tapi kemudian hujan kembali mengguyur, sehingga pada Rabu sore terjadi banjir. Ratusan rumah warga di Kecamatan Labuhan Haji dan Labuhan Haji Barat, terendam. Untungnya, tak ada warga yang harus mengungsi juga tak ada korban jiwa dalam bencana itu.

Berdasarkan amatan maupun informasi yang diterima Serambi, hujan deras yang mengguyur sejak pagi itu mengakibatkan Sungai Labuhan Haji meluap dan merendam rumah penduduk di Kecamatan Labuhan Haji dan Labuhan Haji Barat. Dua kecamatan ini terletak di perbatasan antara Kabupaten Aceh Selatan dengan Abdya.

Selain merendam rumah dan toko, banjir yang terjadi persis pada hari tolak bala (Rabu habeh) itu juga merendam pusat pelayanan kesehatan, kantor pos, gedung sekolah, dan sejumlah fasilitas umum lainnya di dua kecamatan itu. “Memang tidak berlangsung lama. Tapi banjir sore itu lumayan besar, mencapai 40-50 centimeter di dalam rumah warga,” ujar Camat Labuhan Haji, Suhasmi.

Bahkan, menurutnya, sejumlah badan jalan nasional dan provinsi di kawasan itu tergenang, sehingga transportasi darat terganggu beberapa waktu. Terutama di jalan pusat perbelanjaan Labuhan Haji dan jalan pusat perbelanjaan Blangkejeren, Labuhan Haji Barat.

Sehari sebelumnya, Selasa sekitar pukul 03.00 WIB, banjir juga merendam sejumlah desa di Kecamatan Samadua dan Kecamatan Tapaktuan. Di Tapaktuan, rumah warga yang terendam banjir meliputi Desa Air Berudang, Lhok Ketapang, Hilir, Pasar, dan Kampung Padang. Sedangkan banjir yang melanda Kecamatan Samadua, mencakup Desa Lubuk Layu, Gadang, Ladang, Baru, dan Desa Arafah.

Selain merendam ratusan rumah warga dan gedung sekolah, hujan deras yang tak henti-henti sejak sore hingga menjelang subuh itu juga mengakibatkan sejumlah badan jalan dan saluran irigasi di Desa Lubuk Layu, Kecamatan Samadua, tertimbun tanah longsor. Akibatnya, transportasi ke kawasan itu terganggu.

“Arus transportasi ke kawasan itu baru normal setelah warga bergotong royong membersihkan tanah longsor dari Gunung Lubuk Layu,” kata Camat Samadua, Said Junaidi.

Jembatan patah
Sementara itu, lantai jembatan permanen Desa Ujong Tanoh, Kecamatan Setia, Aceh Barat Daya (Abdya) patah, lalu ambruk dalam posisi melengkung setelah dihantam banjir, Rabu sore. Hujan lebat yang menyebabkan banjir di sejumlah kawasan, menggenangi puluhan rumah warga.

Pantauan Serambi, Kamis (3/2) pagi, jembatan Desa Ujong Tanah yang menghubungkan Dusun Makmur dengan Dusun Murni tak bisa lagi dilalui kendaraan roda empat. Pengendara sepmor pun harus melintas ekstrahati-hati karena permukaan lantai dari beton patah dan melengkung, sehingga sangat rawan dilintasi.

Beberapa warga di sekitar jembatan itu menjelaskan, lantai jembatan sepanjang 15 meter ambruk setelah patah di bagian tengahnya gara-gara diterjang banjir, Rabu (2/2) sekitar pukul 18.00 WIB.

Camat Setia, Jasliman bersama anggota muspika sudah turun ke lokasi pada Rabu sore. Peristiwa itu juga sudah dilaporkan kepada Pemkab Abdya. “Beberapa pejabat, termasuk dari Dinas Pekerjaan Umum sudah turun ke lokasi pada Rabu malam,” kata Camat Jasliman. Jembatan Ujong Tanoh yang merupakan sarana penghubung menuju Desa Alue Dama, juga dilintasi para nelayan yang menuju kawasan pesisir itu.

Sementara itu, hujan yang mengguyur kawasan Abdya sejak Rabu (2/2) sore, juga menimbulkan banjir di sejumlah tempat. Antara lain di Desa Ie Mameh, Kecamatan Kuala Batee dan Desa Pulau Kayu, Kecamatan Susoh.

Menurut Sekretaris Gampong Ie Mameh, Zainuddin, sedikitnya 40 rumah warga dikepung banjir pada Rabu malam selama empat jam. “Kini permukaan air sudah surut kembali,” kata Sekdes Zainuddin ketika dihubungi Serambi, Kamis kemarin.

Sedang di sejumlah pekarangan rumah warga Pulau Kayu dan Ujong Padang, Susoh, hingga Kamis kemarin masih digenangi banjir. Bahkan, sekitar 125 meter badan jalan dari Desa Ujong Padang ke Desa Padang Gelumpang, Kecamatan Jeumpa, Abdya, lumpuh akibat terendam luapan Krueng Teukueh.

Puluhan rumah terendam
Hujan deras yang mengguyur wilayah Aceh Singkil dan sekitarnya sejak kemarin malam, juga menyebabkan puluhan rumah, sawah, dan jalan lintas Singkil-Subulussalam di Desa Buluseuma, Kecamatan Suro, terendam banjir.

Banjir terjadi setelah Sungai Buluseuma meluap, kemudian merendam rumah warga sekitar pukul 00.00 WIB dini hari, Kamis (3/2). Ketinggian air mencapai dua meter.

Bupati Aceh Singkil, Makmursyah Putra, beserta Camat Suro Samsuddin dan unsur muspida lainnya, terjun ke lokasi Kamis pagi. Menurut Bupati, data sementara kerusakan akibat banjir, antara lain, satu unit rumah hanyut, 19 rusak parah, 40 rusak ringan, dan jalan sepanjang 200 meter juga rusak parah. Selain itu, sedikitnya 50 hektare lahan sawah dipastikan gagal panen.

Menjelang pagi kemarin banjir mulai surut. “Kerugian akibat banjir dadakan ini bisa mencapai Rp 1 miliar,” prediksi Makmur seraya menyatakan, tidak ada korban jiwa dalam musibah itu. Banjir tersebut, menurutnya, selain akibat derasnya hujan, juga disebabkan datangnya banjir kiriman dari Lae Ikan. (nun/az/c39)

Sumber : Serambinews.com