Senin, 27 Juni 2011

Gajah Makin Mengganas di Aceh Selatan

Thu, May 5th 2011, 16:06

TAPAKTUAN - Gangguan gajah liar di sejumlah desa di Kecamatan Bakongan Timur (Bakotim), Aceh Selatan, dalam beberapa pekan terakhir semakin mengganas. Akibatnya penduduk mulai cemas untuk berpergian ke kebun
Sekdes Simpang, Razali, kepada Serambinews.com, Kamis (5/5/2011), mengatakan, setelah merusak sebuah gubuk milik Yahyah (40) warga Simpang tiga pekan lalu, kini binatang berbelalai itu kian mengganas.
Selain merusak tanaman sawit, pinang, pisang, kacang dan tanaman palawija lainnya milik warga. Kawanan binatang yang berjumlah tiga ekor itu kini sudah masuk kepemukiman penduduk. Bahkan sudah berkeliaran diseputar rumah penduduk.
Meski keberadaan satwa itu sudah meresahkan masyarakat, namun hingga kini belum ada upaya pemerintah setempat dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mendatangkan gajah jinak untuk menggiring kembali gajah liar itu ke habitatnya..
Sementara upaya pengusiran yang dilakukan warga dengan cara tradisonal membakar api unggun dan membunyikan bunyian-bunyian tidak membuahkan hasil. Gajah itu hanya menghilang sesaat.(azhari)

Sumber : Serambinews.com

Murid SD Terpaksa Merangkak ke Sekolah

Wed, May 4th 2011, 09:03
* Lima Bulan Jembatan Krueng Suaq Ambruk belum Diperbaiki

TAPAKTUAN - Jembatan Krueng Suaq, Desa Titi Poben, Kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan, sudah lima bulan dibiarkan rusak. Namun hingga kini belum ada upaya pemerintah setempat untuk membangun kembali. Selain para petani kesulitan mengangkut hasil kebun, ratusan siswa juga terpaksa merangkak di jembatan darurat untuk sampai ke sekolah.

Kepala Desa (Kades) Titi Poben, Syamsul Arifin, kepada Serambi, Selasa (3/5) mengatakan, jembatan yang membelah sungai Krueng Suaq itu dibangun tahun 1982 ketika pembukaan transmigrasi. Jembatan yang terbuat dari batang kelapa itu sudah sering rusak dan sudah berulangkali diperbaiki masyarakat secara bergotong royong.

Tapi kerusakan yang terjadi kali ini merupakan yang terparah, sehingga warga sangat sulit untuk memperbaiki, karena semua kayu yang membentang di atas jembatan itu sudah lapuk akibat dimakan usia, sehingga satu persatu kayu dari batang kelapa itu ambruk ke dalam sungai.

Runtuhnya jembatan Krueng Suaq itu, mengakibatkan kawasan itu terisolir. Sekurangnya 75 kepala keluarga terpaksa menggunakan jembatan darurat meskipun membahayakan jiwa mereka. Namun ketika debit air sungai tinggi, jembatan darurat juga tidak bisa membantu warga keluar masuk ke sentral perkebunan.

Kondisi ini juga sangat dirasakan oleh siswa yang bersekolah di SD yang berlokasi di seberang sungai itu. Bahkan untuk menuju ke sekolah mereka terpaksa merangkak ketika melintasi jembatan darurat tersebut.

Seperti pengakuan Kepala SD setempat, Jarinal kepada Serambi belum lama ini, akibat belum diperbaikinya kerusakan jembatan tersebut para murid di sekolah yang dipimpinnya itu terpaksa merangkak di atas jembatan itu untuk mencapai ke sekolahnya yang berada di sebarang sungai.

Meskipun orang tua mereka prihatin dengan kondisi jembatan, namun anak-anak terpaksa melintasi jembatan sederhana agar bisa mengikuti pelajaran di sekolah.

Jarinal mengakui sudah pernah melayangkan proposal pembangunan jembatan itu ke Dinas Pekerjaan Umum setempat, namun hingga kini belum ada tanggapannya. “Kita sudah bermohon ke dinas PU, namun belum ada realisasinya,” katanya.

Terkait hal tersebut, Kapala Bidang (Kabid) Bina Marga Dinas PU Aceh Selatan, Bahrumsyah yang dihubungi Serambi, mengakui sudah mendapat laporan tentang kerusakan jembatan di Desa Titi Poben tersebut. Bahkan pihaknya juga sudah mengusulkan pembangunan jembatan itu.

Tapi pembangunan jembatan yang direncakan permanen itu belum dapat dilaksanakan, karena anggaran untuk itu tidak tertampung dalam APBK 2011 sehubungan dengan terjadinya difisit anggaran daerah. “Kita akan programkan kembali pembangunan jembatan itu pada APBK 2012,” katanya.(az)

Sumber : Serambinews.com

Minggu, 26 Juni 2011

Arus Sungai Deras, Ratusan Siswa di Bulohseuma tak Bisa Bersekolah

Mon, May 2nd 2011, 09:03

TAPAKTUAN - Ratusan murid SD dan SMP di Kemukiman Bulohseuma, Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, dilaporkan sudah empat hari tidak bisa bersekolah. Kondisi ini terjadi karena sampan yang selama ini mereka manfaatkan sebagai alat transportasi pengganti rakit tidak bisa difungsikan sehubungan air sungai Krueng Bulohseuma cukup deras setelah kawasan itu diguyur hujan.

Ilyas, tokoh pemuda Kemukiman Bulohseuma, kepada Serambi, Minggu (1/5) menyebutkan, ratusan murid SD dan SMP di daerah terpencil itu dalam empat hari terakhir ini terpaksa mengurung niat untuk pergi ke sekolah. Mereka tidak bisa pergi ke sekolah karena rakit penyeberangan belum beroperasi akibat tali kabelnya yang putus diterjang arus sungai sebulan lalu itu hingga kini belum diganti.

Sementara sampan yang dijadikan sebagai pengganti rakit itu, kata Ilyas, tidak bisa menyeberangi sungai seluas 60 meter itu, karena airnya sangat deras setelah kawasan itu diguyur hujan lebat yang terjadi dalam sepekan terakhir ini. “Sudah empat hari siswa di Desa Raket dan Desa Kuta Padang tidak bisa bersekolah, karena air sungai deras,” katanya.

Selain menghambat para murid pergi ke sekolah, derasnya air sungai Krueg Bulohseuma juga mengakibatkan aktifitas masyarakat di dua desa itu terganggu. Warga yang berdomisili di Desa Raket tidak bisa bepergian untuk berobat ke Pustu di Desa Kuta Padang. Begitu juga sebaliknya, warga dari Desa Kuta Padang tidak bisa pergi ke kebun dan berbelanja di Desa Raket.

Karena itu masyarakat di daerah terpencil itu sangat berharap kepada pemerintah setempat dalam hal ini Dinas Perhubungan untuk segera mengoperasikan kembali rakit penyeberangan itu. “Masyarakat sangat berharap rakit tersebut dioperasikan kembali. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut bisa memperburuk pendidikan dan perekonomian masyarakat di daerah terpencil tersebut,” katanya.

Terkait masalah itu, Kadis Perhubungan Aceh Selatan Drs Tio Achriyat yang dihubungi secara terpisah, menyatakan, masyarakat Bulohseuma tidak perlu gundah, karena dalam waktu dekat rakit tersebut akan dioperasikan kembali. “Kita sedang upayakan pengadaan kebel. Dalam waktu dekat rakit itu sudah beroperasi kembali,” janjinya.(az)

Sumber : Serambinews.com

Barat-Selatan Banjir lagi

Sun, May 1st 2011, 11:23

TAPAKTUAN - Hujan lebat yang mengguyur kawasan Pantai Barat-Selatan Aceh dalam dua hari terakhir, telah menyebabkan sejumlah kawasan di wilayah itu banjir lagi. Namun, banjir yang juga disebabkan meluapnya sejumlah sungai, kali ini, tidak sampai memaksa penduduk setempat untuk mengungsi. Camat Labuhan Haji Barat, Suhaidi kepada Serambi di lokasi banjir, menyebutkan, banjir itu terjadi akibat meluapnya sungai Pulokam menyusul guyuran hujan melanda kawasan itu selama tiga jam. Namun genangan banjir ketinggian mencapai 40 cm-70 cm dari permukaan rumah penduduk itu baru surut sekitar pukul 21.00 WIB setelah hujan reda.

Ratusan rumah warga yang digenangi banjir itu meliputu Desa Tengoh Iboh, Pulokam dan Desa Tutong. Meski tidak ada warga yang mengungsi. Namun, masyarakat di tiga desa yang berada disekitar di pusat perbelanjaan itu mengalami kerugian besar, peralatan rumah tangga dan barang dagangan ikut diredam banjir. Aktivitas belajar mengajar di SDN 1 dan SDN 2 Blangkejeren, Kecamatan Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan, kemarin, juga tampak terhenti total. Seluruh ruang kelas, kantor dewan guru dan juga perpustakaan sekolah masih digenangi lumpur setebal 20 cm. Para siswa dan juga guru, kepala sekolah dibantu masyarakat sekitar tampak berusaha membersihkan lumpur yang ditinggalkan akibat rendaman banjir semalaman.

Sementara itu, beberapa kawasan rawan banjir di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), hingga kemarin, juga masih terlihat digenangi banjir luapan setinggi 20 Cm. Kenndati air sempat surut beberapa saat, namun karena hujan terus mengguyur kawasan itu air pun kembali naik. Kondisi ini antara lain dialami warga Ujong Padang, Kecamatan Susoh, dan warga Lhueng Geulumpang Kecamatan Kuala Batee. Banjir bercampur lumpur itu juga menenggelamkan sejumlah kolam ikan dan tanaman padi milik warga yang sedang berbuah. Bahkan hujan yang mengguyur wilayah Aceh Selatan, dalam dua hari terakhir, juga telah mengakibatkan sejumlah ruas jalan di kabupaten itu ikut terendam banjir.

Dari Singkil dilaporkan pula bahwa sejumlah kawasan di daerah itu, kemarin, tampak mulai tergenang banjir. Kondisi ini disebabkan karena meluapnya sejumlah sungai, setelah hujan deras mengguyur daerah itu dalam dua hari terakhir. Air mulai meninggi hingga masuk ke pekarangan rumah penduduk menjelang subuh, Sabtu (30/4). Berdasarkan hasil pantauan, pemukiman penduduk dan perkebunan kelapa sawit di kawasan Lae Ijuk, Kecamatan Gunung Meriah, tergenang. Di daerah ini air sudah menyentuh lantai rumah. Kemudian jalan menuju Teluk Rumbia dan Rantau Gedang, Singkil, juga digenangi air dengan ketinggian sebetis orang dewasa. Sementara itu, sebanyak 320 jiwa masyarakat pedalaman di Desa Kuala Seumayam, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, sepanjang Sabtu (30/4) kemarin, dilaporkan juga digenangani banjir setinggi 1,5 meter. Banjir yang kembali melanda kawasan ini disebabkan guyuran hujan yang terjadi sejak beberapa hari terakhir.

Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Nagan Raya, Drs Abdurrani Cut, mengatakan kawasan pedalaman itu memang kerap dilanda banjir karena pemukiman warga berada di sepanjang daerah aliran sungai (DAS). “Akibatnya, ketika sungai meluap akibat guyuran hujan lebat, makan banjir akan melanda kawasan itu,” katanya kepada Serambi, kemarin.(az/tz/c39/edi)

Sumber : Serambinews.com

Jumat, 24 Juni 2011

Digoyang Gempa, Warga Aceh Selatan Berhamburan

Fri, Apr 29th 2011, 17:05

TAPAKTUAN - Gempa berkekuatan 6,0 skala richter kembali mengoncang Kota Tapaktuan, Aceh Selatan. Belum diketahui adanya kerusakan dan korban jiwa dalam peristiwa itu. Namun getaran gempa yang terjadi sekitar pukul 15.56 WIB itu membuat masyarakat di sekitar panik dan berhamburan keluar.
Pantauan Serambinews.com, di Jalan Merdeka, pusat perbelajaan, terlihat sejumlah warga yang berhamburan keluar. Hal yang sama juga terlihat di Jalan T Ben Mahmud. Puluhan siswa SMA 1 Tapaktuan yang sedang belajar di lantai dua terpaksa berlarian turun ke bawah, karena takut gedung bertingkat itu roboh. Sementara sejumlah siswa lainnya tetap bertahan di dalam ruangan.
Menurut informasi, goncangan gempa tersebut tidak hanya dirasakan warga Kota Tapaktuan, hal serupa juga dirasakan masyarakat Kecamatan Meukek. Seperti dilaporkan Yunardi (35) warga Desa Ie Dingen, bahwa seluruh warga yang berada di dalam rumah dan kios-kios berhamburan keluar rumah menghindari kemungkinan akan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Sementara Sekdes Padang, Kecamatan Labuhan Haji Barat, Helmi juga mengakui getaran genpat terjadi di daerah, namun peristiwa itu tidak menimbulkan kepanikan warga. yang merasakan gempa itu tetap berada di dalam rumah. “Memang ada terasa gempa, tapi tidak menimbulkan kepanikan," katanya.(azhari)

Sumber : serambinews.com

Digoyang Gempa, Warga Aceh Selatan Berhamburan

Fri, Apr 29th 2011, 17:05

TAPAKTUAN - Gempa berkekuatan 6,0 skala richter kembali mengoncang Kota Tapaktuan, Aceh Selatan. Belum diketahui adanya kerusakan dan korban jiwa dalam peristiwa itu. Namun getaran gempa yang terjadi sekitar pukul 15.56 WIB itu membuat masyarakat di sekitar panik dan berhamburan keluar.
Pantauan Serambinews.com, di Jalan Merdeka, pusat perbelajaan, terlihat sejumlah warga yang berhamburan keluar. Hal yang sama juga terlihat di Jalan T Ben Mahmud. Puluhan siswa SMA 1 Tapaktuan yang sedang belajar di lantai dua terpaksa berlarian turun ke bawah, karena takut gedung bertingkat itu roboh. Sementara sejumlah siswa lainnya tetap bertahan di dalam ruangan.
Menurut informasi, goncangan gempa tersebut tidak hanya dirasakan warga Kota Tapaktuan, hal serupa juga dirasakan masyarakat Kecamatan Meukek. Seperti dilaporkan Yunardi (35) warga Desa Ie Dingen, bahwa seluruh warga yang berada di dalam rumah dan kios-kios berhamburan keluar rumah menghindari kemungkinan akan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Sementara Sekdes Padang, Kecamatan Labuhan Haji Barat, Helmi juga mengakui getaran genpat terjadi di daerah, namun peristiwa itu tidak menimbulkan kepanikan warga. yang merasakan gempa itu tetap berada di dalam rumah. “Memang ada terasa gempa, tapi tidak menimbulkan kepanikan," katanya.(azhari)

Sumber : serambinews.com

Rabu, 22 Juni 2011

Jalan ke Pertambangan PT PSU Dibokir Warga

Thu, Apr 28th 2011, 09:07

TAPAKTUAN - Puluhan warga Desa Paya Ateuk, Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan, memblokir jalan menuju PT Pinang Sejati Utama (PT PSU) di desa tersebut. Aksi ini menyebabkan aktifitas angkutan material batu bijih besi terganggu.

Bobi (30) warga setempat kepada Serambi, Selasa (26/4) mengatakan, aksi pemblokiran ruas jalan dengan kayu di Desa Paya Ateuk itu dilakukan sebagai akumulasi kekecewaan warga terhadap sikap PT PSU yang hingga kini belum menuntaskan masalah ganti rugi tanah warga yang selama ini dijadikannya sebagai perluasan jalan untuk dilalui mobil pengangkut material batu bijih besi dan tanah yang diduga mengandung emas.

Tanah masyarakat yang belum dibayar ganti rugi oleh PT PSU itu mencapai puluhan hektare. Padahal untuk ganti rugi tanah itu, pihak PT PSU sebelumnya sudah berjanji pada pemilik tanah akan membayar tanah itu setiap bulan sebesar Rp 1.500.000.

“Kita sudah berulangkali mempertanyakan masalah ganti rugi tanah itu ke pihak perusahaan. Namun pihak perusahaan hanya berjanji akan membayar tanggaal 15 dan terakhir 25 April, namun hingga kini belum ada kejelasan,” katanya.

Menurutnya aksi pemblokiran jalan dengan kayu itu akan berlanjut hingga pihak perusahaan merealisasikan ganti rugi tanah warga. Terkait masalah pemblokiran jalan di Desa Paya Ateuk itu, Serambi belum berhasil menghubungi Direktur PT PSU, Hj Latifah Hanum. Beberapa kali dihubungi melalui HP-nya sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.(az)

Sumber : Serambinews.com