Mon, May 23rd 2011, 08:54
JAKARTA - Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Kluet, Aceh Selatan, yang dikerjakan PT Gelora Lintas Artha (GLA), dijanjikan mulai beroperasi secara bertahap pada 2011 dengan daya 1 megawatt (MW). PLTB akan beroperasi penuh pada 2012 dengan kapasitas 10 MW.
Target tersebut diutarakan Direktur Utama (Dirut) PT GLA, Mawardi Pohan, menjawab Serambi, Sabtu (21/5). “Kita beroperasi secara bertahap. Tahap pertama menghasilkan 1 MW. Itu saya kira cukup untuk mengaliri listrik di perumahan sekitar,” katanya.
Mawardi Pohan membantah pembangunan proyek tersebut terbengkalai. “Saat ini sedang dikerjakan pembangunannya. Kita sekarang melakukan proses pemagaran lokasi,” kata Mawardi. Sebelumnya sempat diisukan bahwa pembangunan pembangkit PLTB tersebut tersendat dan terbengkalai.
Pembangungunan PLTB Kluet ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Irwandi Yusuf pada 1 November 2011. Terletak di Desa Suak Bakong Kecamatan Kluet Selatan. “Kita harapkan PLTB segera bisa beroperasi secara bertahap,” janji Mawardi Pohan yang mengaku perusahaan PT GLA memiliki kantor pusat di Suak Bakong, Aceh Selatan.
Ia menjelaskan PLTB Kluet adalah PLTB ke-6 di Indonesia.”Seluruhnya ada tujuh PLTB. Aceh yang ke-6,” ujar Mawardi yang akrab disapa Ozi Pohan ini.
Awalnya pembangunan PLTB Kluet itu menggandeng perusahaan asal Korea Selatan. Tapi sekarang sudah tidak lagi. “Dulu kita menggunakan perusahaan Korea sebagai tehnical asistence,” tambah Mawardi Pohan. Tapi ia tidak menjelaskan kenapa pihaknya tidak lagi menggandeng perusahaan Korea tersebut. Proyek dengan nilai investasi Rp 50 miliar itu, menurut Mawardi Pohan, akan mendatangkan sejumlah peralatan seperti batrey dari Malaysia.
Gubernur Irwandi pada saat peletakan batu pertama PLTB, menyebutkan kawasan pantai Kandang merupakan pesisir barat Pulau Sumatera yang mempunyai kecepatan anginnya antara 2-4 meter per detik sehingga menarik minat empat investor Korea Selatan, yakni Kim Jong Tae, Go Young Min, Song Jae Sung, dan Baek Gwang Hyun,dan pengusaha Indonesia Marlis Pohan untuk membangun PLTB berkapasitas 10 MW.
Akan dibangun 200 unit tower turbin angin di area seluas 75 hektare. Pembangunan turbin angin penghasil energi listrik dengan teknologi itu hanya membutuhkan kecepatan angin rendah antara 1,6 sampai 3 meter per detik.
Komisaris Utama PT GLA, Marlis Pohan yang dikabarkan sedang berada di lokasi proyek saat ingin dikonfirmasi Serambi melalui saluran telepon seluler tidak berhasil dihubungi. Nomor telepon miliknya tak aktif.(fik)
Sumber : Serambinews.com
Tampilkan postingan dengan label Energi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Energi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 26 Juli 2011
Selasa, 04 Januari 2011
PLTB Kluet terancam gagal ?
Monday, 27 December 2010 16:07
TAPAKTUAN - Pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin (PLTB) Kluet, di pesisir pantai Gampong Suak Bakong, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan, kini terbengkalai dan dilaporkan terancam gagal.
Pasalnya, pemilik konsersium tiga perusahaan yang bernaung di bawah PLTB Kluet, dituding kurang serius melaksanakan pekerjaan. Meski telah dua bulan terlantar sejak peletakan batu pertama oleh Gubernur Irwandi Yusuf, 1 November lalu, hingga kini belum ada tanda-tanda pekerjaan di lapangan.
Informasi siang ini, menyebutkan kondisi lokasi kembali sepi sebagaimana pra peletakan batu pertama oleh gubernur. Padahal program sebelumnya, pasca pelatakan batu pertama, pekerjaan berbagai item proyek yang menelan biaya sebesar Rp 130 miliar itu segera dimulai.
“Ya bapak lihat sendiri, setelah gebernur pulang pengusahanya pun menghilang dan kita tak mengetahui kapan proyek ini dikerjaan, jangan-jangan hanya sekedar menghibur pak Gubernur Irwandi saja dan masyarakat Aceh Selatan atau pihak konsersium kurang modal,” sebut seorang warga di sana.
Menurut warga, Marlis Pohan, selaku pelaksana proyek kerjasama dengan Pemkab Aceh Selatan sebelumnya menjanjikan akan menerima masyarakat Suak Bakong khususnya, sebagai tenaga kerja. Tapi hingga saat ini janji tersebut masih tinggal janji.
Tokoh masyarakat Suak Bakong, Suhaimi MD mengaku sangat prihatin terhadap nasib PTB Kluet yang kini terbengkalai. “Soalnya, ini kan harapan masyarakat, hendaknya jangan disia-disiakan sehingga masyarakat kecewa, karena tidak jelas pekerjaannya,”sebutnya.
Suhaimi berharap agar pihak pelaksana segera melakukan kegiatan di lapangan. Sebab, selain desakan mengatasi arus listrik di kawasan pantai barat selatan , juga desakan lapangan kerja bagi masyarakat, sekaligus mengatasi kesenjangan social selama ini.
Sementara pemilik konsersium tiga perusahaan PLTB Kluet, Marlis Pohan, membantah terlantarnya proyek tersebut akibat kurang modal, tetapi terbentur pekerjaan karena menunggu MoU dengan pihak PLN di Jakarta. “Insya Allah, MoU telah selesai dengan PLN dan kita akan memulai pekerjaan pada 2 Januari 2011, pekan depan,”ucapnya.
Pohan mengakui konsersium yang dipimpinnya tiga perusahaan bernaung di bawah PLTB. Namun ia enggan menyebutkan nama perusahaan dimaksud tanpa alasan. ”Bapak tak boleh tau nama perushaan yang saya pimpin itu, pokoknya tiga perusahaan selaku pelaksana di lapangan,”ucapnya.
Menyangkut dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Irwandi Yusuf bagiakan dipaksakan, meski pihaknya belum tuntas melakukan persiapan lapangan dan administrasi perizinan, Marlis mengaku hal itu dilakukan selain faktor ekonomis dan politis.
Sebab yang diproses izinnya atas nama PT Gelora Lintas Artha dengan Akta Notaris No.33 dengan Notaris Faisal, pendiriannya 28 Mei 2008. Kemudian dirubah tanggal 30 November 2010, setelah Gubernur Irwandi meletakkan batu pertama pembangunannya.
Sumber : Waspada.co.id
TAPAKTUAN - Pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin (PLTB) Kluet, di pesisir pantai Gampong Suak Bakong, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan, kini terbengkalai dan dilaporkan terancam gagal.
Pasalnya, pemilik konsersium tiga perusahaan yang bernaung di bawah PLTB Kluet, dituding kurang serius melaksanakan pekerjaan. Meski telah dua bulan terlantar sejak peletakan batu pertama oleh Gubernur Irwandi Yusuf, 1 November lalu, hingga kini belum ada tanda-tanda pekerjaan di lapangan.
Informasi siang ini, menyebutkan kondisi lokasi kembali sepi sebagaimana pra peletakan batu pertama oleh gubernur. Padahal program sebelumnya, pasca pelatakan batu pertama, pekerjaan berbagai item proyek yang menelan biaya sebesar Rp 130 miliar itu segera dimulai.
“Ya bapak lihat sendiri, setelah gebernur pulang pengusahanya pun menghilang dan kita tak mengetahui kapan proyek ini dikerjaan, jangan-jangan hanya sekedar menghibur pak Gubernur Irwandi saja dan masyarakat Aceh Selatan atau pihak konsersium kurang modal,” sebut seorang warga di sana.
Menurut warga, Marlis Pohan, selaku pelaksana proyek kerjasama dengan Pemkab Aceh Selatan sebelumnya menjanjikan akan menerima masyarakat Suak Bakong khususnya, sebagai tenaga kerja. Tapi hingga saat ini janji tersebut masih tinggal janji.
Tokoh masyarakat Suak Bakong, Suhaimi MD mengaku sangat prihatin terhadap nasib PTB Kluet yang kini terbengkalai. “Soalnya, ini kan harapan masyarakat, hendaknya jangan disia-disiakan sehingga masyarakat kecewa, karena tidak jelas pekerjaannya,”sebutnya.
Suhaimi berharap agar pihak pelaksana segera melakukan kegiatan di lapangan. Sebab, selain desakan mengatasi arus listrik di kawasan pantai barat selatan , juga desakan lapangan kerja bagi masyarakat, sekaligus mengatasi kesenjangan social selama ini.
Sementara pemilik konsersium tiga perusahaan PLTB Kluet, Marlis Pohan, membantah terlantarnya proyek tersebut akibat kurang modal, tetapi terbentur pekerjaan karena menunggu MoU dengan pihak PLN di Jakarta. “Insya Allah, MoU telah selesai dengan PLN dan kita akan memulai pekerjaan pada 2 Januari 2011, pekan depan,”ucapnya.
Pohan mengakui konsersium yang dipimpinnya tiga perusahaan bernaung di bawah PLTB. Namun ia enggan menyebutkan nama perusahaan dimaksud tanpa alasan. ”Bapak tak boleh tau nama perushaan yang saya pimpin itu, pokoknya tiga perusahaan selaku pelaksana di lapangan,”ucapnya.
Menyangkut dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Irwandi Yusuf bagiakan dipaksakan, meski pihaknya belum tuntas melakukan persiapan lapangan dan administrasi perizinan, Marlis mengaku hal itu dilakukan selain faktor ekonomis dan politis.
Sebab yang diproses izinnya atas nama PT Gelora Lintas Artha dengan Akta Notaris No.33 dengan Notaris Faisal, pendiriannya 28 Mei 2008. Kemudian dirubah tanggal 30 November 2010, setelah Gubernur Irwandi meletakkan batu pertama pembangunannya.
Sumber : Waspada.co.id
Langganan:
Postingan (Atom)