Kamis, 07 April 2011

Ribuan Warga Manggamat Naik Gunung Usir Gajah

Thu, Feb 24th 2011, 08:54

TAPAKTUAN-Ribuan warga dari berbagai desa di Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, dengan dilengkapi peralatan menaiki gunung untuk mengusir kawanan gajah liar yang selama ini dilaporkan telah meresahkan warga.

Deni Irmansyah, anggota DPRK Aceh Selatan, kepada Serambi Rabu (23/2) mengatakan, seribuan warga dalam tujuh desa dalam Kecamatan Kluet Tengah, yakni Desa Koto, Koto Indarung, Lawe Melang, Padang, Pulau Air, Mersak dan Siurai-Urai sejak Rabu pagi kemarin naik ke gunung menelusuri hutan belantara mengusir kawanan gajah liar.

Pengusiran kawanan gajah liar yang dilakukan warga dengan menggunakan alat berupa rabana, trompet petasan dan perlengkapan lainnya itu merupakan inisiatif warga sendiri yang tidak sanggup lagi menerima ancaman gajah yang telah meresahkan warga. Sementara Pemkab dan BKSDA sendiri tidak pernah merespon pengaduan masyarakat atas keganasan satwa dilindungi itu.

Dalam pengusiran gajah untuk kembali kehabitatnya itu warga dari tujuh desa itu dibantu dua orang pawang dari Pekan Baru yang didatangkan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PMPN) bagian lingkungan.

Menurut informasi yang diterima dari sejumlah kepala desa di kecamatan itu, pengusiran binatang berbelalai itu akan berlangsung selama tiga hari dengan titik saran kawasan Gunung Jambo Teka dan Gunung Sarah Baro yang selama ini sering dilintasi binatang dimaksud.

Deni menambahkan, konflik gajah dengan warga di Manggamat itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Ratusan hektar tanaman padi dan tanaman perkebunan warga sudah musnah digasak binatang itu. Bukan itu saja sejumlah warga juga tewas dan mengalami luka-luka akibat diamuk . Musibah terakhir menimpa Syamsuddin (38), warga Desa Koto Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah. Ia meninggal dunia 10 hari tak sadarkan diri setelah diamuk gajah.

Seperti diinformasikan, Syamsuddin diamuk gajah liar saat tidur sendirian di gubuk berukuran 2 x 2 meter di kebunnya, Dusun Pawoh, Senin (13/12) tengah malam. Dusun itu berjarak 30 menit perjalanan naik perahu robin dari tempat tinggalnya.

Karena ada makhluk besar yang menggerus pintu gubuknya, Syamsuddin terbangun. Bergegas ia ke luar. Ternyata seekor gajah dewasa sedang merusak gubuknya. Spontan ia melarikan diri. Tapi gajah itu berhasil menghadang langkahnya persis di depan pintu gubuk. Seketika itu juga gajah menarik korban dengan belalainya, lalu dibanting beberapa kali hingga tak berdaya. Setelah gajah pergi, Syamsuddin pun berteriak minta tolong. Warga yang mendengar suara jeritan itu langsung mendatangi gubuk korban.

Ia ditemukan sudah pingsan. Darah segar ke luar dari telinga kanannya yang sebagian sudah putus. Lalu warga menggotongnya ke sebuah gubuk milik petani lain yang tak jauh dari lokasi kejadian. Setelah siang, barulah korban dievakuasi ke puskesmas dan dirujuk ke Rumah Sakit Umum dr Yulidin Away (RSUYA) Tapaktuan naik ambulans. Karena kondisinya makin parah, pihak keluarga membawa korban pulang ke rumah orang tuanya di Desa Ie Mirah. Sepulang dari rumah sakit, korban tak sadarkan diri hingga ajal menjemputnya.(az)

Sumber : Serambinews.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar